Putri Rizky Pramadhani 24 Dec 2019

Penulis Lepas, Ibu 1 Anak

Ajak si Kiddo Berpikir Kritis melalui Buku The Little House

(0)
Bagikan:

Saya selalu menyukai buku-buku klasik. Sebab saya pikir, tentunya ada alasan mengapa sebuah buku, yang ditulis berpuluh tahun lalu, masih terus dibaca dan digemari hingga saat ini, kan?

The Little House karya Virginia Lee Burton ini salah satunya. Buku anak klasik ini terbit kali pertama pada tahun 1942. Hampir delapan dekade lalu! Buku ini digambari sendiri oleh sang penulis, dan setahun setelah rilisnya, ia langsung diganjar Caldecott Medal, sebuah penghargaan bergengsi untuk ilustrasi buku anak-anak Amerika.

The Little House berkisah tentang sebuah rumah mungil nan indah yang dibangun di atas bukit yang tak kalah indahnya pada tahun 1900an. Sang pemilik rumah begitu menyayanginya, hingga ia tak akan rela menukarnya dengan emas ataupun perak, dan rumah itu akan terus ada untuk menyaksikan cucu-cucu dan cicit-cicitnya tinggal bersamanya.

Rumah Kecil itu sangat bahagia. Dia menikmati pemandangan indah di sekelilingnya, mengamati bagaimana kecantikan di sana bersilih rupa dengan kecantikan lain tiap kali musim berganti.

Rumah Kecil itu tak pernah berubah. Namun, jaman berubah, dan ketika jaman berubah, ia bisa mengubah segalanya. Pemandangan indah yang dulu begitu dinikmati si Rumah Kecil, berubah menjadi jalan beraspal, kendaraan hilir mudik, rumah-rumah mewah, gedung bertingkat, kereta bawah tanah, debu, asap, dan segala kebisingan khas kota besar.

Dan bagaimana dengan si Rumah Kecil? Ia tetap di sana, menyaksikan semuanya, kian lama kian usang hingga tak akan ada yang mau menukarnya dengan emas ataupun perak!

Rumah Kecil itu menjadi sangat kesepian. Ia rindu pada suasana pedesaan. Ia sedih sekali, hingga suatu hari datanglah seorang cicit dari sang pemilik Rumah Kecil yang telah lama tiada. Si cicit pun memutuskan untuk memindahkan si Rumah Kecil ke sebuah desa. Suasana desa itu mirip sekali dengan desa yang dulu ditinggalinya. Desa yang selalu diingatnya dan begitu dicintainya, dan Rumah Kecil pun merasa sangat bahagia!

Kisah si Rumah Kecil ini terasa menyentuh, dan sangat relevan dengan kondisi hari ini ya Moms. Melalui buku ini, kita bisa mengajak si Kiddo berandai-andai. Bagaimana bila kita yang menjadi si Rumah Kecil? Apa yang akan kita rasakan? Lalu kita juga bisa mengajaknya belajar berpikir kritis; apakah pembangunan itu baik? Jika baik, seperti apa?

Asyik sekali ya Moms!

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda