Amidya Tri Agusti 08 Jan 2020

Penulis Lepas, Pengajar, Full-time Mom, Ibu 1 anak

Menumbuhkan Empati Pada Sesama Melalui Kisah Gadis Penjual Korek Api

(0)
Bagikan:

Pernahkan Mommies dan Daddies mendengar tentang dongeng gadis penjual korek api? Gadis penjual korek api adalah sebuah dongeng klasik hasil karya dari Masterpiece Dongeng Dunia, yaitu Hans Christian Andersen. Sekalipun dongeng ini memiliki alur yang pilu dan sedih, namun Andersen dapat menyampaikan fragmen-fragmen adegan dongeng dengan indah.

Gadis kecil penjual korek api begitu lelah dan kelaparan. Kendati demikian, dia tidak berani untuk kembali ke rumah, sebab dia ketakutan apabila ayahnya memarahinya karena tidak membawa uang. Kisahnya pun sendu, karena gadis kecil ini berjualan korek api, ketika musim salju tiba. Dapat kita bayangkan bersama, betapa kasihannya gadis kecil ini. Dia hanya seorang gadis kecil, di mana Ibu dan Nenek yang dikasihinya sudah terlebih dahulu berada di surga. Saat gadis kecil ini berusaha menjual korek apinya, justru membuatnya sangat kedinginan. Lebih-lebih dia tidak mengenakan mantel, sepatunya terlepas dari kakinya, dan justru digunakan sebagai mainan oleh anak-anak laki-laki kecil. Sungguh kasihan bukan?

Singkat cerita, gadis kecil menyalakan satu per satu korek apinya. Dalam bayangannya, dia membayangkan ada makanan lezat, pohon Natal dengan lilin yang menyala terang, bintang-bintang, hingga dia membayangkan neneknya. Ketika bayangan neneknya muncul dalam api, dia terus-menerus menyalakan korek apinya karena rasa rindunya yang dalam kepada sang nenek. Hingga akhirnya, semua menjadi begitu terang, dan dia terbang ke langit, ke dalam pelukan neneknya.

Adegan dalam cerita karya Andersen selalu indah. Bahkan, gambaran kematian ini pun terasa seperti berkat dalam menyambut datangnya Tahun Baru.

Kisah gadis penjual korek api ini sesungguhnya mengajarkan kepada kita untuk bisa menumbuhkan rasa simpati, bahkan empati dalam hati kita. Saat kita melihat anak kecil yang kelaparan di pinggir jalan, atau saat melihat anak-anak yang tidak sekolah, apakah hati kita akan tersentuh? Meskipun hati kita tersentuh, maukah tangan dan kaki kita bergerak untuk menolong mereka? Karenanya marilah kita bersama-sama memiliki belas kasihan dalam hati kita, marilah kita menolong siapa saja yang sungguh membutuhkan. Biarlah hidup kita menjadi seperti korek api, sekalipun kecil, dan tidak berlangsung lama saat dinyalakan, tapi kita mampu memberi terang dan kebahagiaan untuk orang-orang di sekitar kita.

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda