Putri Rizky Pramadhani 10 Jan 2020

Penulis Lepas, Ibu 1 Anak

Balita Belajar Baca-Tulis, Perlukah?

(0)
Bagikan:

“Anaknya sudah bisa membaca dan menulis, belum?”

Pernahkah mendapat pertanyaan semacam itu, Mom? Atau sering? Hehehe.. Di era yang serba kompetitif ini, menjadi orang tua milenial rasanya sulit sekali ya. Kita acap dituntut untuk menyulap anak agar menjadi lebih baik dari teman-teman sebayanya. Salah satunya, mengkarbit kemampuan baca-tulis si Kiddo.

Tapi, betulkah mengajarkan si Kiddo membaca dan menulis di usia yang terlalu dini akan menjamin kecerdasannya kelak?

Saya ingin membagikan ringkasan sebuah artikel yang bagus sekali terkait pertanyaan tersebut, yang disariterjemahkan dan diunggah di situs Charlotte Mason Indonesia beberapa tahun lalu. Artikel ini ditulis oleh dokter Susan Johnson, seorang pakar perkembangan dan perilaku anak yang juga merupakan certified Waldorf teacher.

Nah, tahukah Mommies dan Daddies kalau kesiapan anak untuk belajar baca-tulis ternyata sangat erat kaitannya dengan kematangan sistem proprioseptifnya? Apa sih sistem proprioseptif itu?

Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan tubuhnya dalam ruang. Jika anak Mommies sering tak bisa duduk tenang, selalu bergeliat-geliut di kursinya, mengetuk-ngetukkan jari di meja, atau sering terbangun sepanjang tidur malamnya dan mencari-cari kontak fisik dengan orangtuanya sebelum terlelap kembali, kemungkinan besar sistem proprioseptifnya belum matang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus melihat atau menggerakkan mereka.

Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja anak Mommies belajar menghafal huruf dan angka berkali-kali, namun tetap saja ia kerap bingung membedakan huruf b dan d, atau angka 6 dan 9.

Nah, kapankah sistem proprioseptif ini matang?

Rupanya, selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak memang masih berusaha memetakan lokasi otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak kehilangan jejak keberadaannya. Sistem proprioseptif akan menjadi kuat melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak mainan, menyiangi rumput, atau bergelantungan di tangga lengkung taman bermain. Untuk mengetes, coba saja Mommies gores dengan jari, sebuah huruf atau angka di punggung si Kiddo. Apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.

Lalu, apa akibatnya bila anak ‘dipaksa’ belajar baca dan tulis saat sistem di otaknya belum benar-benar siap?
Jika anak belajar membaca pada usia 4-7 tahun, maka bagian otak yang akan dipakai adalah belahan otak kanan. Belahan ini membuat anak mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf dan angka. Saat diperkenalkan pada sebuah kata, anak akan mengingat huruf pertama dan huruf terakhir, serta panjang dan bentuknya secara umum. Maka, tergambarlah kata itu di benaknya. Namun, cara membaca ini punya kelemahan. Kata BURUK bisa dibaca BUSUK atau BULUK. Kata-kata seperti SIAP dan SUAP atau SURAT, SARAT, dan SIRAT akan terlihat sama saja. Akibatnya, membaca kalimat panjang jadi terasa melelahkan. Lagipula, karena sibuk membunyikan kata, mereka tak bisa menangkap makna utuh dari suatu bacaan.

Karena pusat membaca di otak kanan melihat huruf dan angka sebagai gambar, cara belajar membaca terbaik untuk usia 4-7 tahun adalah menghubungkan huruf atau angka dengan gambar-gambar. Misalnya, huruf “M” bisa diwakilkan oleh gambar dua puncak gunung dengan lembah di tengahnya. Contoh lain termasuk menggambar seekor katak untuk huruf “K”, seekor badak untuk huruf “B” atau wafer untuk huruf “W”.

Namun, untuk belajar membaca secara formal, masih perlu dipenuhi faktor-faktor lainnya. Seperti berkembangnya pusat baca di belahan otak kiri. Ini rata-rata terjadi usia 7-9 tahun (pada anak perempuan bisa lebih cepat, sementara pada anak lelaki bisa lebih lambat, sekitar umur 10-12 tahun). Pusat membaca di otak kiri inilah yang menyanggupkan anak-anak untuk belajar membaca secara fonetis (dari huruf ke huruf). Mereka akan dapat mengingat lebih akurat bagaimana mengeja kata-kata. Jika belahan otak kanan dan kiri telah berkembang dan saling terhubung, anak bisa mengakses keduanya secara bersamaan. Kemampuan mengakses secara simultan pusat baca di belahan otak kiri dan kanan ini akan memudahkan proses membaca anak. Sembari membaca, ia juga bisa menciptakan imaji visual dalam benaknya tentang isi bacaan sebab ia tidak terpaku pada kegiatan mengeja. Alhasil, saat diajak berdiskusi atau disuruh menceritakan kembali, mereka mampu menuturkannya dengan kata-kata mereka sendiri. Mengapa? Karena imaji itu hidup dalam otak mereka!

Bagaimana kita tahu belahan otak kanan dan kiri telah saling terhubung (integrasi bilateral)? Cobalah tes kemampuan mereka dalam melakukan cross-lateral skip: apakah mereka bisa mengayunkan kaki kiri dengan tangan kanan atau kaki kanan dengan tangan kiri berbarengan tanpa berpikir atau berkonsentrasi. Kemampuan ini bisa dilatih dengan banyak melakukan gerakan silang, misalnya lewat permainan tenis, berenang dengan berbagai gaya, atau mendaki gunung. Sebagai catatan, semua kegiatan ini tak dijalankan dalam suasana persaingan, sebab stres dapat mengganggu pembentukan jalur syaraf.

Sebagai orangtua, kita pun punya peranan amat besar dalam membangun pondasi proses belajar anak. Misalnya, menyediakan makanan yang bergizi, memberi batasan ketat terhadap kegiatan menonton atau screen time, juga menciptakan irama yang teratur dalam pola makan dan tidur serta kegiatan sehari-hari. Dan yang tak kalah pentingnya adalah melimpahi si Kiddo dengan cinta kasih tanpa syarat. Anak yang merasakan cinta kasih ini akan bertumbuh kembang lebih optimal, termasuk kemampuan akademisnya.

Jadi, sudah waktunya untuk menyingkirkan meja-meja dari kelompok bermain dan taman kanak-kanak. Anak-anak usia dini lebih memerlukan aneka permainan yang melatih integrasi syaraf, keterampilan motorik halus, kemampuan motorik visual, keseimbangan, kekuatan otot, proprioseptif, selain perkembangan sosial dan emosional. Kegiatan seperti drama, memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan satu kaki), lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap, melukis, mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik, merajut, serta keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka untuk belajar.

Nanti, beberapa tahun kemudian, saat anak sudah mahir berdiri di satu kaki dengan mata tertutup, menebak huruf atau angka yang ditulis di punggungnya, lompat tali maju mundur, dan melakukan gerakan silang (artinya otak kanan dan otak kiri telah sama-sama berkembang dan saling terhubung), pelajaran formal untuk membaca, mengeja, dan menulis sudah bisa dimulai.

(Untuk versi lengkap artikel ini, silakan baca artikel “Kapan Anak Siap Belajar Baca Tulis?” di www.cmindonesia.com)

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda