Putri Rizky Pramadhani 17 Jan 2020

Penulis Lepas, Ibu 1 Anak

Saat Si Kiddo Enggan Berbagi

(0)
Bagikan:

Mommies dan Daddies pasti sering ya menghadapi si Kiddo yang tak mau berbagi. Ogah meminjamkan mainan pada temannya, emoh memberikan sebagian kuenya, dan masih banyak lagi. Jangan terburu-buru melabeli si Kiddo dengan sebutan pelit, memarahinya, atau bahkan memaksanya untuk membagikan miliknya ya Moms and Dads.

Dari yang pernah saya baca, perilaku enggan berbagi ini wajar sekali, kok Moms. Ini salah satu ‘insting’ alami anak-anak untuk mengamankan apa yang dimilikinya. Melarang orang lain melanggar haknya. Jadi, bukankah kemampuan ini penting juga untuk dipunyai si Kiddo? Tentu tak akan sehat bila anak malah tak pernah bisa menolak intrusi orang lain atas propertinya. Persoalannya adalah, bagaimana kita sebagai orang tua menyikapi penolakan si Kiddo, dan mengajarinya cara yang santun untuk menyampaikan penolakannya?

Saya belajar untuk menghargai keinginan si Kiddo yang sedang bersikeras menjaga miliknya. Sebab, saya pun ingin dihargai demikian. Di keluarga kami, siapapun hanya boleh meminjam barang jika diijinkan oleh pemiliknya. Jika tidak diberi ijin, tak boleh memaksa. Tunggu sampai si empunya mengijinkan. Jadi, ketika ada teman si Kiddo yang ingin meminjam mainannya dan ia tak memperbolehkannya, biasanya saya pastikan lagi dengan menanyai si Kiddo, “Betul kamu tidak mau meminjamkan?”

Kadang ia berubah pikiran. Kadang ia tetap berkeras enggan. Jika ia tetap belum mau meminjamkan, tak apa. Saya ajak dia untuk meminta maaf dan mengatakan pada temannya bahwa ia masih ingin memainkannya.

Bagaimana bila mainan itu direbut paksa dari si Kiddo? Nah, ini konflik, dan bukankah percikan konflik semacam ini baik untuk melatih social skill-nya kelak? Biasanya, saya minta si Kiddo untuk meminta kembali mainannya dari kawannya. Bila kawannya itu ngotot dan tak mau mengembalikan, barulah saya turun tangan. Saya katakan pada kawannya, “Kamu ingin sekali mainan ini ya? Maaf ya, anak Tante masih belum ingin meminjamkan. Nanti jika sudah bosan dan anak tante mengijinkan, kamu boleh meminjamnya. Sekarang boleh Tante minta mainan itu?” Dan saya pastikan mainan itu dikembalikan pada anak saya, sembari mengucapkan terima kasih.

Ada kalanya, si Kiddo lah yang merebut paksa milik temannya dan temannya tak suka. Nah, prinsip “minta ijin pemiliknya” tadi perlu secara konsisten diberlakukan. Saya akan memintanya untuk bertanya baik-baik kepada kawannya, apakah ia boleh meminjam mainannya. Jika temannya tetap tak memperbolehkan, saya bertugas memberi pengertian kepada si Kiddo bahwa mainan itu bukan miliknya, dan harus dikembalikan kepada yang punya. Tunggu sampai si empunya mengijinkan mainannya dipinjam. Anak saya boleh saja kesal atau marah. Tapi, ia tetap harus menunggu.

Biasanya untuk menghibur si Kiddo, saya katakan, “Nanti kalau temanmu sudah bosan dengan mainannya, kita coba minta ijin pinjam lagi ya. Siapa tahu dia memperbolehkan. Sekarang, kita main yang lain dulu.” Cara “mengalihkan perhatian” ini biasanya mujarab. Triknya adalah mengetahui dengan jitu apa yang bisa dengan mudah membuat perhatiannya teralih.

Dalam menghadapi si Kiddo yang sedang “egois” dan “pelit” ini, menurut saya yang tak kalah pentingnya adalah meredam ego kita sebagai orang tua. Apa alasan kita memaksa anak untuk meminjamkan atau membagikan miliknya? Apa hanya sekedar menjaga citra diri agar dipandang sebagai orang tua yang “baik”? Coba bayangkan jika kita yang berada di posisi si Kiddo. Kita pun tak bisa selalu dengan senang hati meminjamkan apa yang kita miliki kepada orang lain, bukan? Kalau kita yang sudah sebesar ini saja bisa menyimpan perasaan itu, bagaimana dengan si Kiddo yang jalur-jalur saraf di kepalanya belum terhubung secara sempurna?

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda