Balita.co 16 Jan 2020

Teman Digital Keluarga Milenial

MengASIhi si Kiddo dengan "Engorgement dan Mastitis"

(0)
Bagikan:

Yes! Sharing is Caring.

Dari pengalaman menyusui baby K selama 1 tahun penuh, dan melewati berbagai drama ‘penyakit’ payudara, saya ingin berbagi beberapa hal mengenai Tips Menyusui. Rasanya selama belum mengalami sendiri, saya belum pernah mendengar betapa menyusui itu sangat sulit. Sakit melahirkan hanya beberapa jam, tapi sakitnya menyusui kalau ada sumbatan itu menderita seolah-olah tiada akhir karena produksi ASI terus berjalan. Terlebih lagi saat harus menghadapi ‘penyakit’ yang saya tidak tahu namanya sehingga tidak tahu harus berbuat apa.

Di hari-hari awal saya menyusui, ASI tidak langsung keluar. Tapi hanya dalam beberapa hari, produksi ASI saya meningkat drastis. Disitulah mulai ada sumbatan ASI, dimana saya tidak menyadarinya, hingga akhirnya kondisinya tersumbat parah. Areola saya menjadi keras, berbentuk hampir kotak, dan beberapa hari kemudian bagian kulit payudara menjadi merah. Bayi sudah menolak menyusu dari payudara tsb, bahkan bentuknya tidak bisa lagi masuk di corong pompa ASI.

Yang saya alami ini ternyata adalah ‘engorgement’ dan ‘mastitis’ secara bersamaan. Beruntung saya bertemu dokter yang bisa melakukan tindakan insisi (bedah ringan) tanpa harus masuk ruang operasi. Nanah dikeluarkan melalui sobekan sekitar 1 cm yang dibuat di areola, dan Puji Tuhan nanah tidak ada di dalam jaringan ASI. Butuh seminggu waktu pemulihan pasca insisi, tapi percayalah 10 hari dengan sumbatan ASI membuat saya menangis setiap saat dan kelelahan di saat yang bersamaan. Jangan sampai Mommies mengalami.

Tips pertama, kondisi normal payudara kita seharusnya sama sekali tidak ada grenjelan. Pastikan anda cek selagi melakukan massage payudara setelah menyusui / setelah pumping. Dulu saya tidak pernah mengecek, hingga terlambat menyadari adanya sumbatan. Jangan menunda, segera pijat payudara, keluarkan ASI hingga tidak ada lagi grenjelan. Akan lebih menghemat waktu jika anda memijit payudara selagi bayi menyusu / selama sesi pumping.

Kedua, jangan ada sisi payudara favorit. Bayi terkadang menyukai salah satu sisi lebih dari yang lain, tapi pastikan anda jangan memindahkan bayi ke sisi lain jika belum tuntas supaya payudara kiri dan kanan produksinya sama dan tidak berbeda ukuran. Mommies dan bayi harus sama-sama beradaptasi dengan posisi menyusui. Berganti payudara sebaiknya saat sesi menyusui berikutnya, atau jika 1 sisi sudah tuntas dan bayi merasa belum puas.

Ketiga, keluarkan ASI hingga tuntas. Jika bayi sudah cukup menyusu, bukan berarti payudara kita kosong. Keluarkan ASI hingga payudara terasa mengendur dan tidak ada bagian yang keras. Terutama bila bayi hanya menyusu di 1 sisi, penting untuk memompa keluar ASI dari payudara sisi lain. Membiarkannya hingga waktu menyusui berikutnya bisa beresiko payudara penuh dan keras. Alternatif lainnya, gunakan pompa ASI silikon manual selagi bayi menyusu di payudara satunya.

Keempat, jangan percayai mitos jika ASI rembes menetes keluar dari payudara artinya produksi ASI banyak. Jangan dibiarkan saja, justru itu adalah sinyal supaya Mommies mengeluarkan ASI dari payudara tersebut sebelum menjadi sumbatan.

Kelima, perlu untuk punya kompres payudara. Mengompres dengan handuk basah kurang efektif dan hanya akan merepotkan di hari-hari awal. Kompres payudara akan sangat membantu jika ada grenjelan atau sumbatan, dan membantu mempercepat durasi pumping. Pastikan Mommies menggunakan kompres panas atau dingin sesuai kondisi yang diperlukan. Sebaiknya menggunakan kompres dingin untuk kasus engorgement.

Nah, itulah Mommies pengalaman saya ketika memulai menASIhi si Kiddo. Adakah Mommies yang memiliki pengalaman seperti saya? Sharing yuk di kolom komentar!


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda