Balita.co 05 May 2020

Teman Digital Keluarga Milenial

Ketika Sekolah Pindah #dirumahaja

(0)
Bagikan:

Sebelum masa pandemi ini, sekolah adalah sebuah aktivitas yang dilakukan oleh anak dari hari Senin hingga Jumat. Menuntut ilmu melalui mempelajari berbagai mata pelajaran, mengikuti ujian tengah semester dan ujian akhir semester hingga akhirnya anak kita akan mendapatkan ijazah, sebagai tanda kelulusan jenjang pendidikan. Akan tetapi, di tengah masa pandemi Covid-19, sekolah yang biasanya harus berangkat ke tempat sekolah, bertatap muka dengan guru, bercengkerama dengan teman sekelas, kini tidak bisa dilakukan. Sebab sekolah harus dilakukan di rumah (school from home).

Berikut ini adalah pemaparan serba-serbi ketika sekolah pindah #dirumahaja yang disampaikan oleh Toge Aprilianto; psikolog, penulis buku, dan founder @latihati pada 2 Mei 2020 untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Bagaimana latar belakang sekolah, tujuan sekolah, dan peran orangtua dalam pendidikan di rumah? Demikianlah pemaparannya.

Kenapa sekolah itu ada?
Dalam sejarahnya, sekolah sebenarnya adalah sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Karenanya sifatnya mengisi waktu luang, maka kegiatan yang dilakukan di dalam sekolah adalah untuk bersenang-senang dan melakukan hobi saja.

Apa tujuan anak bersekolah?
Tujuan akhir anak bersekolah adalah anak bisa lulus dan mendapatkan ijazah. Ini adalah tujuan primer mengapa kita menyekolahkan anak. Sedangkan tujuan sekunder dari anak bersekolah ada bermacam-macam seperti anak mendapatkan teman baru, anak belajar berinteraksi sosial dan mengembangkan kemampuan sosialnya, ada pula anak yang ke sekolah untuk belajar. Tujuan sekunder mengapa anak bersekolah itu macam-macam, namun tujuan akhirnya adalah sama yaitu mendapatkan ijazah diakhir jenjang pendidikan.

Mengapa sekolah itu wajib?
Berdasarkan sejarahnya, sekolah memang hanya untuk bersenang-senang dan melakukan hobi. Namun pada perkembangnya mulailah sekolah ini diwajibkan. Di Indonesia sendiri, sekolah diwajibkan untuk melaksanakan kebijakan pemerintah dalam rangka pemerataan. Dengan melakukan pemerataan, tiap-tiap sekolah baik di kota maupun di desa, atau di berbagai daerah manapun akan bersifat rata (sama). Dan, di Indonesia kebijakan wajib belajar diatur dalam Undang Undang Pendidikan, sebelumnya Indonesia pernah mencanangkan wajib belajar 9 tahun, tetapi kini kebijakan itu sudah belajar, sekarang Indonesia mewajibkan seluruh anak untuk wajib belajar 12 tahun.

Bagaimana peran sekolah saat diganti dengan pendidikan di rumah?
Di tengah-tengah masa pandemi ini, memang sekolah yang dijalankan adalah sekolah jarak jauh. Pemerintah Indonesia sesungguhnya sudah punya program Sekolah Berbasis Teknologi Informatika (SBTI), hanya saja memang program ini perlu digalidan diaplikasikan lebih lagi dalam tiap sekolah.

Jika melihat hasil akhir sekolah adalah anak mendapatkan ijazah, sebenarnya orangtua dalam hal ini tidak mengambil banyak peran, yang memegang peranan penting adalah anak dan guru di kelas. Namun, saat orangtua menginginkan anak mendapatkan keterampilan lain yang bisa dimiliki anak, tentu orangtua yang harus menyediakan fasilitas yang dibutuhkan sesuai keterampilan yang orangtua inginkan supaya dimiliki oleh anak.

Bagaimana orangtua mempersiapkan diri untuk pendidikan di rumah?
Jika sekolah di rumah, tentu orangtua menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan seperti akses internet, membelikan kuota, gadget, dan alat peraga yang mungkin dibutuhkan anak. Hanya saja bagaimana saat ada tugas dengan alat peraga yang tidak dimiliki anak di rumah, sebab ada alat-alat peraga yang hanya dimiliki oleh sekolah. Oleh karena itu, orangtua sesungguhnya hanya berperan sebagai fasilitator. Sedangkan dalam proses belajar sekalipun sistemnya jarak jauh, guru tetap harus berperan aktif dalam pembelajaran.

Apa tujuan dari sekolah di rumah?
Tujuan dari sekolah di rumah tentu bermacam-macam, kita tentu mengetahui ada Homeschooling, Sekolah Umum, dan Unschooling. Jika Homeschooling tujuan akhirnya anak tetap bisa mendapatkan ijazah, dan guru yang datang ke rumah mengajar anak secara langsung. Sekolah Umum/Wajib pun sama tujuannya anak mendapatkan ijazah kelulusan di tiap jenjang pendidikan.

Lalu bagaimana dengan Unscholling? Jika yang terjadi adalah Unscholling, tujuan dari sekolah itu tergantung kepada orangtua. Orangtua berperan sebagai kepala sekolah. Untuk melakukan evaluasi, orang tua dapat memilih dua cara, yaitu membandingkan si anak dengan dirinya sendiri di fase sebelumnya atau menbandingkannya dengan anak lain, misalnya melalui kegiatan lomba.

Bagaimana jalannya proses belajar tanpa tatap muka di kelas?
Sesungguhnya semuanya tergantung pada materi/mata pelajaran. Jika mata pelajaran yang tanpa bertatap muka dengan melakukan sekolah dari rumah tentu tidak ada masalah. Namun, mata pelajaran yang mengharuskan anak bertatap muka dengan guru, dan ada praktik mata pelajaran di dalamnya tentu akan lebih susah, seperti Olahraga, Kimia, atau mata pelajaran lainnya. Jika sekolah dari rumah dan berkaitan dengan mata pelajaran yang sifatnya fisik, sebaiknya orangtua juga ikut belajar, orangtua dapat berperan menjadi asisten guru dan menolong anak dalam mencapaikan indikator yang diharapkan.

Demikianlah pemaparan dari Toge Aprilianto dalam Live Streaming dengan tema “Ketika Sekolah Pindah #dirumah” pada Sabtu, 2 Mei 2020 untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional bersama Balita.co. Bagaimana dengan pengalaman Anda sebagai orangtua selama mendampingi anak dalam masa sekolah #dirumahaja? Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi? Kiranya seluruh orangtua dapat memotivasi anak untuk belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja sama dengan anak untuk tetap menjalankan sekolah di rumah aja dengan sebaik mungkin. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda