Amidya Tri Agusti 27 Aug 2020

Penulis Lepas, Pengajar, Full-time Mom, Ibu 1 anak

Mengenal Fase Terrible Two Pada Anak dan Cara Mengatasinya

(0)
Bagikan:

Beberapa orang tua merasakan betapa pusingnya mengasuh Kiddos saat mereka memasuki fase "terrible two". Masa terrible two biasanya dimulai ketika Kiddos memasuki masa toddler, yaitu usia 2 tahun. Saat memasuki fase terrible two, Kiddos dapat menunjukkan sikap menendang, melempar barang, menggigit berbagai barang, hingga perilaku menjengkelkan lainnya. Akan tetapi, Moms & Dads tidak perlu panik hingga jengkel, karena Kiddos memang harus melewati fase ini dan kita pun dapat mengantisipasi perilaku Kiddos yang sifatnya destruktif.

° Apa itu Fase Terrible Two?
Saat memasuki usia toddler yaitu usia 2 tahun. Anak-anak akan memasuki suatu fase yang disebut dengan fase terrible two. Pada fase ini, anak akan menunjukkan sifat egosentris dan segala sesuatu harus berpusat kepada dirinya. Anak belum bisa melihat dari sudut pandang orang lain dan menyayangi orang lain sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri. Oleh karena itu, pada fase ini anak menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan, tantrum, dan membuat jengkel orang tua.

° Menghadapi Fase Terrible Two pada Anak
1. Ajarkan anak untuk berhati-hati
Ketika anak memasuki fase ini, orang tua harus mengajarkan anak untuk berhati-hati. Misalnya tidak berlari ketika lantai rumah sehabis dipel, tidak melempar mainan supaya tidak mengenai kaca atau orang lain, tidak membuang makanan karena kita harus menghargai makanan, dan sebagainya. Ajarkan kenapa mereka harus bersikap demikian sekaligus alasannya. Dan, cobalah untuk tidak memakai kata "jangan" Ganti kata "jangn" dengan kalimat lainnya. Apabila kita sering menggunakan, "jangan berlari" cobalah mengatakan "jalannya pelan-pelan saja Nak" Ubah menjadi kalimat yang bermakna tidak berupa larangan.

2. Berikan saran kepada anak
Selain itu, kita dapat memberikan saran kepada anak. Apabila mereka menumpahkan air minum, sampaikan untuk lebih baik menghabiskan air minumnya atau taruh kembali di meja ketika air minumnya tidak habis. Apabila anak terlihat marah lalu menangis karena tidak bisa menyusun balok mainannya, berikan saran bagaimana menyusun balok supaya tidak jatuh. Beri saran dan arahkan.

3. Hindari memberi hukuman fisik
Ketika anak berperilaku menjengkelkan, beberapa orang tua biasanya menjadi pusing, jengkel, hingga akhirnya menghukum anak. Akan tetapi, jangan sampai memberikan hukuman fisik. Sebab secara psikologis, hukuman fisik akan berdampak terhadap mental anak, dan dapat membuat mereka tumbuh dengan kesakitan. Coba berikan hukuman lain yang sifatnya tidak hukuman fisik. Alih-alih menghukum secara fisik, lebih baik ajarkan anak untuk meminta maaf ketika berperilaku tidak baik dan berikan nasihat kepada anak untuk bersabar dan berperilaku baik.

4. Ajarkan anak untuk terlibat
Saat anak bersikap menjengkelkan pun, kita lebih baik tetap melibatkan mereka. Misalnya, saat mereka menjatuhkan air minum, ajak dan libatkan mereka untuk membersihkan lantai yang basah. Saat mereka melempar mainan hingga berantakan, ajak mereka untuk merapikan dan menyusun mainan.

5. Peluk anak untuk meredakan amarahnya
Pelukan orang tua bermanfaat bagi anak, juga baik untuk meredakan emosinya. Misalnya saat anak menjadi tantrum, kesal, dan marah. Peluklah mereka dan bicara dengan lembut. Jangan biasakan untuk tersulut emosi dan berteriak kepada anak. Tetaplah bersikap lembut, tenang, dan tentunya juga sabar.

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda