Amidya Tri Agusti 01 May 2021

Penulis Lepas, Pengajar, Full-time Mom, Ibu 1 anak

Mengenal Pola Asuh Co Parenting

(0)
Bagikan:

Setiap pasangan di awal pernikahan tentu berharap untuk dapat menjadi pasangan seutuhnya dan sepenuhnya, menua bersama dan melihat buah hati kita tumbuh dewasa. Akan tetapi, terkadang jalan hidup tidak ada yang tahu. Janji pernikahan untuk selalu bersama, di tengah perjalanan tidak pernah ada tahu. Bahkan tidak jarang pasangan bercerai demi kebaikan bersama. Orang tua yang telah bercerai pun memberikan dampak bagi anak-anak. Terlebih saat anak masih kecil dan belum bisa memahami, mereka merasa kehilangan, bahkan bingung karena terkadang harus ikut Mamanya, atau Papanya. Dan, hal terbaik setelah bercerai adalah tetap mengasuh dan membesarkan anak. Mencukupi mereka dengan kasih sayang, hingga mereka tidak kehilangan salah satu figur orang tuanya.

Pernahkah Mommies dan Daddies mendengar istilah Co Parenting? Co Parenting adalah metode pengasuhan yang dilakukan oleh pasangan yang telah bercerai. Definisi Co Parenting adalah sebuah usaha pengasuhan yang dilakukan bersama-sama meskipun dalam kondisi berpisah atau bercerai untuk saling berkomitmen dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka. Lalu, bagaimana pola pengasuhan Co Parenting itu?

Lakukan (Do):
1. Komitmen penuh

Pasca bercerai, secara otomatis mulai timbul perasaan sungkan dan tidak nyaman untuk berkomunikasi dengan mantan pasangan. Akan tetapi, karena kita telah memiliki, maka kita harus berkomitmen penuh untuk membesarkan anak bersama-sama. Penting bagi kita untuk menjalin komunikasi dan berbagi peran dalam membesarkan buah hati. Oleh karena itu, buat jadwal untuk bertemu, mengantar anak sekolah, mengantar anak mengikuti ekstrakulikuler, bahkan mengantar mereka ke dokter di kala sakit.

2. Selaraskan aturan

Hidup berbeda rumah, bukan berarti harus berbeda prinsip dan aturan dalam membesarkan anak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyelaraskan aturan bersama. Bahkan jauh lebih baik, apabila kita duduk bersama dan buat apa saja yang akan kita lakukan untuk membesarkan anak hingga mereka dewasa kelak. Dengan demikian, anak tidak kebingungan untuk memilih harus taat kepada Mama atau Papanya. Pastikan aturan kedua belah pihak sudah selaras.

3. Kenali potensi diri sendiri untuk mengasuh anak

Setelah berpisah dengan pasangan, penting juga bagi kita untuk mengenali potensi diri sendiri dalam hal pengasuhan anak. Apabila mantan pasangan lebih baik dalam hal pengaturan dan kedisiplinan, maka pihak yang lain dapat mengambil alih dalam peran yang lain.

4. Pahami cara berpikir anak

Penting bagi kita untuk memahami cara berpikir anak. Bagaimana pun anak-anak memiliki tangki cinta yang harus diisi oleh kedua orang tuanya. Jangan biarkan percerainya yang kita ambil justru membuat tangki cinta si anak kosong, justru kita harus semakin mengisi tangkinya dengan kasih sayang yang berlimpah.

Jangan Lakukan (Don't):

1. Merusak nama baik pasangan

Selalu ada sisi gelap di balik perceraian. Meskipun banyak orang berkata berpisah dengan baik-baik, namun ada sisi yang tidak baik. Oleh karena itu, sepahit apapun masa lalu dengan mantan pasangan, usahakan untuk tidak marah, mendendam, dan merusak nama baiknya. Sebab orang tua adalah cermin bagi anak, biarkan mereka melihat sisi positif dari dalam diri kita. Dengan demikian, mereka akan tumbuh tanpa memendam rasa dendam pada salah satu orang tuanya.

2. Bertengkar di depan anak

Dalam hidup berumah tangga, bumbunya banyak. Tidak hanya manis, tapi kadang pedas, juga pahit. Oleh karena itu, jangan bertengkar di depan anak. Saat kita memilih berpisah pun jangan berpisah di depan anak
Sebab apa yang anak lihat dapat menjadi trauma bagi mereka dan menjadikan mereka tumbuh dengan anak yang tertutup dan rendah diri.

3. Merasa bersalah

Apapun risiko yang kita ambil, hendaknya kita bertanggung jawab atasnya. Jangan terus menerus merasa bersalah. Kembali bangun semangat hidup walaupun keadaannya berbeda. Rajut kembali hari untuk menjadi orang yang lebih baik bagi dan memilih cara pandang baru untuk tetap mengasuh dan membesarkan anak.

4. Memutuskan masalah tanpa berdiskusi

Walaupun sudah tidak bersama, apabila terdapat masalah terhadap anak, jangan mencoba untuk memutuskan secara sepihak. Coba libatkan pasangan dalam setiap mengambil keputusan. Jauh lebih baik, apabila kita berdiskusi terlebih dahulu dan solusi yang didapat pun sesuai dengan apa yang kita harapkan untuk kebaikan anak.

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda