Putri Rizky Pramadhani 07 Nov 2019

Penulis Lepas, Ibu 1 Anak

Living Book, Asupan Bergizi untuk Pikiran Muda si Kiddo

(0)
Bagikan:

Ada banyak sekali buku cerita bergambar untuk anak-anak yang nangkring cantik di rak toko buku. Tapi, menurut saya, tak cukup banyak yang secara bijaksana memperkenalkan nilai-nilai baik kepada pembacanya. Dan lebih sedikit lagi yang mengantarkan pesan moralnya itu tanpa membuat pembaca ciliknya merasa digurui!

Adalah living book, sebutan untuk sebuah buku yang masuk dalam kelompok terakhir nan ‘langka’ tersebut. Bagaimana sih caranya menuturkan cerita, menyisipkan muatan luhur di dalamnya, namun tak dengan ‘sotoy’ mengunyahkan pesan moral untuk pembacanya sehingga gagasan di benak anak dapat tetap terpantik?

Mari kita tanya Beatrix Potter. Kita longok sejenak karya-karyanya, misalnya Kisah Peter Kelinci yang amat legendaris itu. Ketika ibu Peter hendak pergi ke toko roti, dia berpesan kepada Peter dan saudara-saudaranya. Mereka boleh bermain di padang atau jalan setapak, namun jangan sekali-sekali pergi ke kebun Pak McGregor karena ayah mereka mendapat musibah di sana; ia dimasak menjadi pai oleh Bu McGregor.

Saudara-saudara Peter, Flopsy, Mopsy, dan Cotton-tail adalah anak-anak kelinci yang manis. Mereka pergi ke jalan setapak dan mengumpulkan beri hitam. Tapi, Peter yang sangat nakal, mengingkari nasihat ibunya dan malah pergi ke kebun Pak McGregor. Di sana, ia makan daun selada, lobak, dan kacang polong. Dan ketika bermaksud mencari peterseli, Pak McGregor melihatnya dan langsung mengejar-ngejarnya.

Pengalaman buruk pun dimulai. Peter yang ketakutan, segera saja lupa jalan pulang. Ia berlari ke sana kemari, mencari tempat untuk bersembunyi. Begitulah nasib malang Peter. Ia sempat nyaris tertangkap, namun akhirnya berhasil melarikan diri dan menemukan jalan pulang. Sampai di rumah, dia begitu kelelahan hingga jatuh sakit. Bu Kelinci yang sabar memberinya teh obat sebelum tidur. Tapi saudara-saudara Peter yang manis, yang mematuhi nasihat ibunya, minum susu dan makan roti serta beri hitam untuk makan malam mereka.

Di dua belas judul buku Beatrix Potter yang diterjemahkan Gramedia, tak ada satu pun ‘petuah’ yang sengaja disuratkan sang penulis, seperti pada buku anak kebanyakan. Tak ada “Nah Adik-adik, selalu patuhi nasihat orang tua ya jika tidak ingin bernasib buruk seperti Peter.” Namun, bukankah anak-anak tak kekurangan perangkat apapun untuk mencerna ide dari kisah yang mereka baca? Mereka adalah pribadi yang utuh, yang bisa berpikir sendiri dan memamah dengan baik hikmah tersirat tanpa perlu mendapat ‘lepehan’ nasihat dari orang-orang dewasa. Dan inilah mengapa, begitu penting memberi anak-anak asupan bacaan bergizi, buku-buku yang hidup, pustaka-pustaka yang bernyawa. A living book.

Nah Mom, apa Mom juga punya rekomendasi living book buat para Kiddos? Yuk saling berbagi di kolom komentar!

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda