Rizki Imayani 19 Dec 2019

Koki Keluarga, Ibu dari 2 Gadis Kecil

Mengajarkan Anak Survival Basic Life Skill

(0)
Bagikan:

“Bundaaa.. Kakak laper.... ada makanan apa?” siang itu suara si Kiddo tiba-tiba mengagetkanku. Aku segera menghampirinya. Kulihat meja makan, ternyata hanya ada makanan orang dewasa saja yaitu sambal.

Aku segera menuju dapur dan membuka pintu kulkas, mengeluarkan beberapa bahan makanan.
“Kakak laper?” tanyaku lagi memastikan. “Iya....” jawabnya.
“Masih kuat nahannya ngga?”
“Kenapa Bunda?”
“Kakak mau bunda ajarin masak. mau ngga? masih bisa ketahan ngga lapernya?”
“Yeyyy! mau bundaa....!! Masih kok!” jawabnya girang.
“Oke. Kalau gitu kali ini Kakak purak-puranya jadi bundanya ya. "Jadi Kakak masak buat orang serumah yaa..”. lanjutku.

Si Kiddo pun girang bukan main begitu tahu aku mengajaknya bermain peran yang “real”. Aku memberitahunya. Bahwa kali ini, Kiddo akan memasak lauk untuk makan. Yaitu telur dadar, untuk semua orang di rumah.

Segera aku keluarkan tiga butir telur, tepung terigu, dua buah daun bawang, dua bawang putih dan tiga bawang merah. Aku minta si Kiddo untuk mengeksekusi seluruh kegiatan memasak tersebut dengan tangannya sendiri. Kiddo senang sekali, aku pun menarik kursi makan agar Kiddo bisa menaikinya dan mulai eksekusi masak.

Awalnya Kiddo aku ajari untuk memecahkan tiga buah telur kedalam mangkok. Lalu mengupas bawang putih dan bawang merah menggunakan kukunya. Kiddo sempat merengek hampir menangis, matanya pedih mengupas bawang merah. Aku memberitahunya bahwa memang bawang merah bikin mata pedih. Tapi aku sadarkan lagi perannya saat itu “Gakpapa Nak, nanti gak perih lagi kok kan memang masak ya begitu. Bunda juga gitu kok biasanya, ya pedih, kena minyak panas, kena teflon. Kan Kakak lagi jadi Bunda sekarang, Kakak yang sabar dulu ya”. Kiddo pun bersemangat kembali, akhirnya aku menyuruh Kiddo memakai kacamata renang agar matanya tidak pedih saat mengupas bawang merah. Hahahah.

Lucu saat melihatnya mengupas bawang merah begitu. Kiddo pun tertawa geli sendiri saat kuminta memakai kacamata renang. Setelah selesai, aku memintanya untuk mencuci semua bumbu-bumbu. Lalu daun bawang, kuminta Kiddo potong menggunakan gunting, bawang putih diparut dengan parutan keju. Bawang merah dicincang dengan chopper, lalu dimasukkan kedalam telur. Tidak lupa juga ditambahkan dengan garam, lada dan larutan maizena yang sudah dicairkan. Lalu dengan spontan si Kiddo mengocok telur tersebut dengan garpu.

Saat proses ini semua tidak lupa kumasukkan nilai-nilai syukur kembali. Aku juga memberitahunya bahwa saat Kiddo menjadi ibu nanti, telur adalah menu andalan semua ibu yang harus ada di kulkas. Kalau bisa, jika ada telur ayam kampung, atau telur bebek. Karena mengandung protein, dan cara memasaknya pun mudah.

Aku mengajarinya bahwa memasak telur termudah adalah bisa dengan diceplok biasa di teflon, ataupun juga didadar seperti yang Kiddo buat saat ini. “Kalau kakak besok punya anak, masak pagi, biar ga repot bisa bikin telur ceplok kasih garem. Kalau bosen, bikin telur dadar kasih gare. Nggausah bumbu juga nggapapa kalau buru-buru”.

Kiddo mendengarkan dengan seksama. “Terus Bunda kenapa kok dikasih tepung terigu?” tanyanya penasaran. Aku pun menjawab bahwa tujuan diberi tepung adalah agar hemat. “Jadi kalo besok Kakak jadi ibu, masak telur dadar kenapa dikasih tepung.. itu biar hemat. Jadi dari satu telur bisa jadi banyak adonan telur dadar tergantung banyak tepungnya..”Sahutku. Kiddo menyetujuinya. Ia mengangguk-angguk saja sedari tadi. Tak lama adonan telur dadar kami jadi, lalu Kiddo pun menggorengnya dan menyajikannya di depan Ayahnya. Dengan bangganya ia berkata kepada Ayah dan kami semua bahwa hari ini ia belajar menjadi Bunda, jadi ia memasak untuk orang serumah. Aku tersenyum bangga. Masya Allah tabarakallah, Terimakasih Allah. Semoga ia kelak menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk suami dan anak-anaknya

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda