Rizki Imayani 15 Dec 2019

Koki Keluarga, Ibu dari 2 Gadis Kecil

Belajar Nilai Moral bersama Anak

(0)
Bagikan:

Siang itu, tiba-tiba si Kiddo bercerita kalau temannya akan bermain ke rumah. Temannya ini adalah anak mbak yang bekerja di rumah kami. Ia akan mampir ke rumah untuk bermain dengan si Kakak. Saya jelas menyetujui karena mereka tampak senang bila bermain bersama.

Si Kakak, yang biasa saya ajak untuk memasak berasama, dan biasa saya ajak untuk bermain peran menjadi bunda sehari, ia tampak bingung gelisah saat itu. Saya berjongkok, merangkul pundaknya, dan menanyakan kondisinya saa itu.

"Iya Bunda"
"Kakak.. Kakak bingung?"
"Kenapa?" Tanya saya lagi.
"Hmmm nanti kalo Kakak Feno dateng kesini dikasih apa yaa Bunda?? Kita kan lagi ga ada makanan atau cemilan sama sekali"
Ingin saya tertawa geli, tapi saya tahan hahahahah. Jelas, karena saat itu si Kiddo sedang menunjukkan rasa empatinya kepada temannya. Ya Allah anakku ternyata sudah gede yaa, sampai mikirin temennya nanti makan/nyemil apa disini, pikir saya.

Saya pun langsung menjawab pertanyaanya hanya dengan senyuman lebar.
"Hmmm, kata siapa kita ngga punya makanan atau cemilan sama sekali, ada kok! banyak malah" kerling saya sambil menggandengnya kearah dapur dan membuka kulkas.
"Nahh sekarang, kakak bantu bunda siapin bahan-bahannya apa aja ya. Nanti, kalau Kakak Feno dateng.. kita masak bareng!".
"YEYYYYYY!!" Teriaknya super girang dengan mata berbinar.

Saya mengajak Kiddo untuk menyiapkan bahan-bahannya. Ada roti tawar, susu kental manis coklat dan putih. Ada bubuk kakao, saringan kawat, cetakan bento berbentuk love dan bintang. Terakir, buah jeruk. Tidak lupa alas mencetak, dan piring-piring mereka. Tidak lama, ada suara pintu diketuk. Sontak saja Kiddo kegirangan sekali. Lompat-lompat tidak berhenti seperti dibawah telapak kaki ada pirnya HAHAHAHAH. Wahh, Kakak Feno teman Kiddo, yang ditunggu-tunggu pun datang.

Si Kiddo pun spontan langsung memberitahu Kakak Feno tentang rencananya. Bahwa saya mengajak mereka untuk menyiapkan camilan untuk kita semua. Feno menyambutnya tak kalah gembira. "Sebeluum kita masak nak. Cuci taangan dahuulu yok" ajak saya sambil bernyanyi. Kami pun mencuci tangan kami dengan sabun. Lalu saya mulai mengajari mereka mencetak roti tawar diatas nampan, dengan cutting bento berbentuk love dan bintang. "Kakak yang love ya bunda.."
"Boleeehhh..."
"Feno yang bintang" sahut Feno
"Boleh banget..." jawab saya

Saat mereka memotong roti, tiba-tiba si Kiddo berceletuk "Lohh bundaa, Kakak Feno kan cowok kok masaak sih? Kenapaa?". Wah kesempatan bagus untuk memasukkan nilai-nilai moral nih, pikir saya.
"Looh iya dong, justru karena Kakak Feno cowok malah harus belajar masak..."
"Kenapa Bunda??" Tanya Kiddo balik
"Kenapa hayo? Kenapa Kak? Kenapa Kak Feno?" Tanya saya kepada mereka masing-masing
"Hmm Kak Feno kan cowo. Harus belajar masak biar bisa masakin anaknya besok ya? Kaya Abi (ayah kiddos)?" Jawab Kiddo
"Hahaha betul, adalagi? Hayoo apa coba?" Pancing saya agar mereka terbiasa berfikir kritis.
"Biar bisa masakin ibu.." jawab Feno.
"Nahh betul juga..."
"Apalagi bunda?" Cecar Kiddo kepada saya
"Banyaaak.. cowo juga harus pinter masak.. Biar bisa masakin istrinyaa kalo istrinya habis melahirkan, masih sakit perutnya atau kalau istrinya gak sempet masak karena repot urus adek bayi atau kalau istrinya sakit terus biar bisa masakin ibunya, bapaknya kalo udah tua besok.. biar bisa masakin anak-anaknya kalo mereka pada gamau makan.. banyak.. justruu cowo harus serba bisa.."
"Kenapa cowo harus serba bisa bunda?"
"Kira-kira kenapa?"
"Gatau" kiddo buntu sepertinya. Ia tampak tidak tahu jawabannya. hahahaa.
"Cowo harus serba bisaa.. karenaa cowo kata Allah itu tiang dari keluarga. Harus bisa menyangga. Menaungi atau melindungi. Saat istri atau ibu atau anak atau orangtuanya butuh. Suami harus selalu ada." Jelas saya. Kiddos hanya menatap saya tak bergeming. Kuharap mereka mengerti. Mereka pun mengangguk-angguk.

Setelah memotong roti masing-masing diatas nampan, menjadi berbentuk love dan bintang, saya minta mereka untuk memanggangnya di atas oven dengan suhu 150 derajat, selama 7 menit. Hanya sampai roti berubah warna kecoklatan saja. Setelahnya saya ambil piring mereka masing-masing, lalu menyiapkan susu kental manis coklat, putih, saringan kawat, bubuk kakao dan satu buah jeruk. Saya meminta Kiddos untuk mem-platting piring mereka sebagus mungkin sesuai kreativitas mereka. Saya ajari mereka untuk menuangi susu kental manis, lalu memberinya ayakan bubuk kakao dengan saringan kawat. Dengan gembira, mereka menghias roti bakar mereka dan menggoyangkan ayakan berisi bubuk kakao diatasnya. Tak lupa saya minta kiddos mengupas jeruk dan menjadikannya garnish. Semua proses pun akhirnya selesai juga. Mereka lompat, berteriak, berjoget kegirangan karena roti bakar love dan bintang mereka bagus sekali katanya. Tidak menunggu diaba-aba Kiddos melahap roti-roti di piring mereka. "Enaaaaak bundaa" kata mereka.
"Alhamdulillah..." senyum saya
"Alhamdulillaah terimakasih ya Allahhh. Masakannya kakak, roti bakar kaka sama kak feno enaak sekalii..." sahut kiddo penuh syukur.

Saya pun tersenyum bahagia melihat mereka lahap memakan rotinya tidak lupa berucap syukur. Dari membuat roti bakar bersama temannya Kiddos telah belajar banyaak sekali. Mereka belajar empati, menguatkan bonding, melatih kreativitas, kepercayaan diri, kerjasama, berbagi, saling menolong. Serta tidak lupa mereka belajar tentang peran seorang lelaki sebagi seorang suami atau ayah dirumah. Syukurlah..

Ohya mom, mungkin ada yang bertanya bagaimana dengan keadaan rumah saya pasca mereka memasak? Ohhh tentunya berantakan luarr biasa karena semuanya tercecer seindonesia raya merdeka-merdeka hiduplaaah indonesiaa rayaaa. HAHAHAHAH. Tak apa lah Mom, memang harga sebuah ilmu mahal. Teringat tagline "ga ada noda ga belajar". Tidak sebanding nilai moral yang mereka dapat dengan berantakannya rumah saya. Tak papa.. yang jelas, setelah mereka makan. Saya minta mereka menaruh piring di bak cuci piring, lalu meminta mereka bekerja sama membersihkan kekacauan tersebut.

Semoga bermanfaat, terhibur dan terinspirasi yaa Mom! ;)

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda