Marantina Napitu 22 Nov 2019

Analis Finansial Keluarga

Apakah iInvestasi Saham Itu Judi? Begini Penjelasannya!

(0)
Bagikan:

Pasti Mommies Daddies sering mendengar tentang investasi saham. Namun, masih banyak yang belum pernah melakukan investasi saham dalam pengelolaan keuangan.

Jika masih bingung mengenai jenis investasi ini, Mommies Daddies tidaklah sendiri. Di Indonesia, jumlah penduduk yang tergolong investor saham sangatlah sendiri. Menurut berita ini, hanya sekitar satu juta orang Indonesia yang punya investasi saham. Jika dipersentasekan, hanya 0,4% penduduk Indonesia yang terjun ke pasar modal.

Jumlahnya memang sangat kecil. Pasalnya, masih banyak kekeliruan mengenai saham. Selain itu, informasi tentang investasi saham juga belum menyentuh semua kalangan. Salah satu alasan orang enggan berinvestasi saham ialah risiko yang besar. Bahkan, di Indonesia, orang-orang menganggap bermain saham sama dengan berjudi. Padahal, tidak demikian adanya.

Sejarah saham atau pasar modal di Indonesia dimulai oleh perusahaan Hindia-Belanda pada 1912. Saat ini, ada lebih dari 600 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Berinvestasi saham artinya Mommies Daddies menanamkan modal atau sejumlah uang untuk ditukarkan dengan kepemilikan lot saham di sebuah perusahaan. Mommies Daddies bisa punya saham di satu perusahaan atau lebih dari satu perusahaan.

Harga saham perusahaan bisa naik dan turun tergantung dari banyak faktor. Ketika membeli saham di perusahaan kecil atau baru, harganya masih relatif murah, tapi risiko perusahaan rugi atau bangkrut bahkan tutup cukup besar. Sementara membeli saham di perusahaan besar atau blue chip, harganya relatif sudah tinggi, tapi kondisi perusahaan cenderung stabil.

Sebagai gambaran, perusahaan startup yang baru berjalan selama lima atau sepuluh tahun punya risiko merugi yang cukup besar. Sementara itu, perusahaan besar seperti Astra atau Bank BCA tentu lebih stabil dibandingkan startup.

Lantas, bagaimana menentukan saham mana yang pantas dibeli? Apakah Mommies Daddies bisa asal beli saham dengan harapan harga naik seperti berjudi di pacuan kuda? Tentu saja tidak. Ada dua hal yang harus Mommies Daddies perhatikan.

Diversifikasi
Membeli saham di satu perusahaan saja punya risiko yang sangat tinggi. Pasalnya, jika harga saham tersebut anjlok, semua uang Mommies Daddies bisa lenyap dalam sekejap. Untuk menghindari hal ini, lakukan diversifikasi saat berinvestasi saham. Beli saham di beberapa perusahaan dengan sektor yang berbeda-beda. Dengan demikian, bila terjadi penurunan harga saham di satu perusahaan, Mommies Daddies masih punya peluang mengambil keuntungan dari kenaikan harga saham di perusahaan lain.

Investasi jangka panjang
Saham merupakan instrumen investasi yang cocok untuk tujuan finansial jangka panjang alias di atas sepuluh tahun. Dengan berinvestasi saham dalam kurun waktu yang lama seperti ini membuat Mommies Daddies terhindar dari godaan untuk menjual saham ketika harganya sedang turun.

Pada tahun 2008, terjadi krisis finansial global. Harga saham di banyak perusahaan turun drastis. Menyikapi hal ini, banyak investor panik dan langsung menjual saham mereka meskipun artinya mereka jadi rugi. Padahal investor yang mempertahankan kepemilikan saham justr bisa survive melewati krisis dan mengantongi keuntungan dari investasi tersebut.

Richard Thaler, seorang pakar ekonomi dan analis perilaku investor mengatakan jangan sering mengecek harga saham. Dengan melihat pergerakan harga saham setiap waktu, investor cenderung dihantui ketakutan akan rugi sehingga membuat keputusan yang tidak masuk akal.

Investor saham yang cerdas mengamati pergerakan harga saham dalam jangka panjang, serta menganalisis kondisi perusahaan yang sahamnya dia miliki. Jadi, keputusan terkait investasi saham jadi lebih logis. Dengan kata lain, pemilihan saham dan keputusannya rasional, bukan untung-untungan ala judi.

Mommies Daddies harus punya strategi ya, kalau tertarik berinvestasi saham. Selamat belajar saham!

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda