Chitra Astriana 21 Nov 2019

Co-Founder Balita

Mengenal Berbagai Alternatif Pendidikan buat si Kiddo

(0)
Bagikan:

Sabtu lalu (16/11) kami berkesempatan untuk berkumpul bersama komunitas Seduluran Homeschooling Surabaya. Dari sana, kami mendengar banyak sudut pandang baru mengenai mode pendidikan alternatif yang dikenal dengan istilah homeschooling ini.


Seperti disampaikan oleh Lyly Freshty, salah satu praktisi homeschooling (HS) di Surabaya, kalau kita bayangkan pendidikan anak sebagai sebuah spektrum, di ujung satunya kita punya opsi yang paling umum yang ada saat ini, yaitu sekolah, dan di ujung lainnya kita punya opsi yang mungkin masih belum terlalu familiar di telinga, yaitu unschooling. Nah, di antara kedua kutub itu masih ada beberapa pilihan lain yang bisa dijalani. Kita coba bahas beberapa pilihan yang ada di sini ya!


  1. Sekolah


Pilhan yang pertama dan yang paling umum di masyarakat saat ini adalah sekolah. Walaupun terdengar sederhana, ketika Mommies dan Daddies memilih untuk menyerahkan pendidikan anak ke lembaga atau institusi sekolah, ada banyak lagi pertimbangan yang perlu dilakukan karena ada banyak sekali pilihan sekolah yang bisa ditemui di luar sana, mulai dari sekolah berbasis agama, sekolah dengan kurikulum internasional, sekolah negeri, dan lain-lain.


Keuntungan dari memilih mode pendidikan ini tentunya adalah keleluasaan waktu yang didapat Mommies dan Daddies karena tidak perlu menyiapkan materi pembelajaran untuk si Kiddo selama ia berada di sekolah. Hal ini dapat menjadi salah satu opsi bagi orang tua yang bekerja.


Namun, kerugiannya adalah kurangnya kontrol Mommies dan Daddies terhadap lingkungan pendidikan si Kiddo, mulai dari materi yang akan dia pelajari atau tidak dia pelajari, sampai hal-hal yang akan ia dapatkan dari lingkungan pergaulannya di sekolah.


  1. Homeschooling


Homeschooling adalah istilah yang diberikan untuk proses penyelenggaraan pendidkan mandiri oleh sebuah keluarga, bukan penyelenggaraan pendidikan oleh institusi yang memakai label homeschooling, padahal mengajak anak untuk datang ke suatu untuk mengenyam pendidikan. Di bawah label ini, masih banyak model yang bisa dipilih, beberapa yang populer di antaranya:


  • School at Home (Sekolah di Rumah)


Model ini bersifat sangat terstruktur dan memiliki jenjang yang jelas, layaknya sekolah. Biasanya, keluarga yang menggunakan model ini akan mengadaptasi kurikulum tertentu, baik nasional maupun internasional, sehingga tidak heran jika kegiatan belajar di rumah pun terjadwal dan berisi berbagai mata pelajaran seperti di sekolah. Kegiatan evaluasi berkala yang biasa ditemui di sekolah pun dilakukan di rumah.


  • Charlotte Mason


Model ini percaya bahwa anak-anak akan belajar secara lebih optimal saat mereka dibiarkan hidup di lingkungan yang alami, bukan lingkungan buatan seperti ruang kelas dan dinding-dinding sekolah. Dengan prinsip itu, maka penganut metode ini membuka kesempatan bagi anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan di sekitarnya dan memetik pelajaran dari berbagai pengalaman yang didapat dari kesehariannya. Karena fokusnya adalah pada pengalaman, maka penganut aliran ini berusaha untuk memberikan pengalaman yang sekaya mungkin bagi anak-anak mereka.


  • Montessori


Metode Montessori mengamini konsep Charlotte Mason dalam hal menempatkan anak sebagai subyek dari proses belajar. Dalam hal ini, orang tua hanya berfungsi sebagai fasilitator saja bagi anak-anaknya. Namun berbeda dengan Charlotte Mason, Montessori justru percaya pada pentingnya menciptakan lingkungan yang terkontrol untuk mengoptimalkan kualitas pembelajaran pada anak. Metode montessori menekankan pada kekuatan proses belajar lewat pengalaman langsung, sehingga anak-anak diharapkan dapat menjalankan aktivitas-aktivitas sehari-hari seperti anggota keluarga lainnya dengan cara difasilitasi dengan alat-alat yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.


  • Eclectic


Penganut metode ini memilih untuk mengkombinasikan kebaikan-kebaikan dari masing-masing metode lainnya guna meracik metode homeschoolingnya sendiri.


Di luar beberapa metode di atas, masih ada lagi banyak metode lain yang bisa dieksplor oleh Mommies dan Daddies jika benar-benar berminat untuk mendalami praktik ini.


  1. Unschooling


Bertolak belakang dengan konsep sekolah, baik di rumah maupun di sekolah, konsep ‘unschooling’ tidak percaya pada struktur pendidikan yang kaku. Model unschooling menerapkan proses belajar yang alami dan berjalan sesuai mengikuti perkembangan anak. Fungsi orang tua hanyalah sebagai fasilitator bagi anak-anaknya sehingga mereka bisa tumbuh menjadi pembelajar yang aktif, percaya diri, dan mandiri.


Nah, secara umum itulah kira-kira peta alternatif pendidikan yang dapat dipertimbangkan untuk si Kiddo. Tentunya artikel ini hanya memberikan gambaran permukaan dari masing-masing metode. Jika tertarik untuk mempelajari pendidikan alternatif lebih lanjut, sangat dianjurkan untuk bergabung dengan komunitas-komunitas penggiat pendidikan alternatif tersebut karena untuk menjalani pilihan yang ‘tidak umum’ terkadang diperlukan faktor penguatan dari teman-teman yang juga memilih jalan serupa agar Mommies dan Daddies lebih percaya dengan pilihan masing-masing dan mampu menjalani berbagai macam tantangan di perjalannya dengan suka cita.

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda