Vonny Wiyani 09 Dec 2019

Konsultan Kehumasan

Jawab Dulu Empat Pertanyaan ini Sebelum Unggah Foto si Kiddos

(0)
Bagikan:

Melihat tingkah polah menggemaskan si Kiddo, wajar bila timbul hasrat untuk mengabadikannya. Seringkali muncul pula keinginan untuk menunjukkannya kepada dunia, agar orang lain bisa ikut menikmati perasaan menyenangkan tersebut. Salah satu cara termudah melakukannya adalah dengan mengunggahnya ke media sosial. Perasaan senang makin berlipat ganda saat foto-foto buah hati kita disukai dan dipuji-puji oleh orang lain. Sayangnya, setiap hal yang diunggah ke internet merupakan jejak digital yang rentan diakses oleh orang lain. Artinya, tidak tertutup kemungkinan foto-foto yang diunggah Mommies dan Daddies disalahgunakan oleh pelaku kejahatan.

Data yang dikumpulkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sejak tahun 2014 hingga 2018 mencatat terjadinya peningkatan kasus kejahatan pornografi anak. Melansir dari situs KPAI, tahun lalu bahkan tercatat ada 679 kasus yang melibatkan anak-anak sebagai korban kejahatan dunia maya. Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah mengungkapkan salah satu pemicu utamanya adalah penggunaan media sosial secara tidak bijak. “Orang tua membuatkan akun untuk anaknya dari kecil hingga mengunggahnya di sosial media, padahal di sana banyak pedofil,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita perlu lebih berhati-hati dalam mengunggah foto Kiddos ke media sosial. Sebelum menyesal, sebaiknya pertimbangkan beberapa hal berikut:

1. Apa alasan anda mengunggah foto anak?

Mulai dari sekedar berbagi, ataupun sebagai arsip mengantisipasi ponsel rusak sebelum sempat mem-back upseluruh foto-foto lucu nan imut si Kiddos, hingga memang sengaja ingin berbagi informasi seputar perkembangan anak yang mungkin bisa bermanfaat bagi orang lain? Sebaiknya tentukan alasan yang tepat terlebih dahulu sembari menimbang besar manfaat atau mudaratnya.

2. Apakah foto itu aman jika tersebar?

Inilah yang terpenting namun seringkali dianggap sepele. Pose-pose dan ekspresi polos Kiddos bisa saja menjadi celah bagi orang jahat dan dimanfaatkan untuk hal-hal buruk. Foto-foto bernuansa terbuka seperti saat si Kiddos sedang mandi, bermain-main sembari mengenakan popok saja atau pakaian tak lengkap, ataupun foto-foto yang memuat detil identitasnya seperti; nama lengkap, tempat sekolah, alamat jelas, juga termasuk beresiko disalahgunakan.

3. Siapa saja yang boleh melihat foto itu?

Kita bisa proaktif dengan mengatur menu privasi di media sosial tempat mengunggah foto-foto si Kiddos, sehingga setidaknya kita tahu siapa saja yang bisa melihat, menyimpan ataupun membagikan kembali foto-foto itu. Di instagram contohnya, sebelum mengunggah instastory, kita bisa mengatur agar foto atau video yang kita unggah hanya bisa dilihat oleh akun-akun yang termasuk dalam daftar teman dekat kita.

4. Nanti, saat dia sudah lebih mengerti, apakah si kecil akan merasa malu oleh foto-foto itu?

Bagaimanapun juga, foto-foto yang kita unggah adalah dokumentasi kehidupan sekaligus hak pribadi Kiddos. Sebelum memutuskan bahwa mengunggah dan membagikan foto-fotonya di media sosial adalah hak kita sepenuhnya sebagai orang tua, bukankah lebih baik jika kita pikirkan resiko macam apa yang kira-kira akan dihadapi sang buah hati kelak saat ia beranjak dewasa.

Dengan memperhatikan keempat hal tersebut, pengalaman berbagi foto dan video tentang perkembangan si Kiddo niscaya akan lebih aman dan membawa manfaat bagi dirinya, orang tua maupun orang lain.

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda