Vonny Wiyani 26 Dec 2019

Konsultan Kehumasan

Cara Jitu Hadapi Parental Shaming di Media Sosial

(0)
Bagikan:

Maraknya media sosial dapat membawa keuntungan bagi para Mommies dan Daddies. Mulai dari mendekatkan mereka yang jauh, hingga menghubungkan dengan mereka yang sama-sama sedang berproses menjadi orang tua. Saling berbagi pengalaman parenting di media sosial juga merupakan kegiatan yang seru dilakukan serta banyak manfaatnya.

Sayangnya, media sosial juga bisa jadi ajang pembandingan dan lontaran kritik pengusik pikiran Mommies dan Daddies. Komentar terkait pilihan pola asuh, sindirian, tuduhan, kritik, bahkan penilaian maupun nasehat yang diberikan tanpa diminta namun bisa menimbulkan perasaan direndahkan bagi siapapun yang menerima inilah yang disebut dengan parental shaming. Bergantung pada penerimanya, parental shaming bisa berbentuk mom shaming ataupun daddy shaming.

Iklim dan budaya mengkritik (yang sering diatasnamakan kepedulian) terkadang malah menimbulkan tekanan dan masalah psikologis bagi seseorang. Khususnya pada mereka yang sehari-harinya sudah kewalahan dengan kesibukan menjadi orang tua baru; beberapa komentar yang terlihat tak berbahaya dari sudut pandang orang lain namun datang bertubi-tubi bisa membahayakan kondisi mentalnya.

Sebuah platform survei daring Jakpat mengungkap data: dari 574 orang ibu yang disurvei pada tahun 2018, semuanya pernah mengalami mom shaming. 7 dari 10 responden mengaku kejadian mom shaming semakin meningkat sejak ada media sosial. Bagi sebagian orang, mom shaming memotivasi untuk semakin proaktif mencari informasi yang tepat terkait kesehatan dan pola asuh anak. Namun bagi sebagian lainnya, mom shaming membuat mereka merasa malu, dan meragukan kemampuan mereka sendiri sebagai orang tua. Lebih lanjut, survei tersebut juga menguak bila 24% dari responden yang mengalami mom shaming punya kecenderungan melakukan hal yang sama pada orang lain.

Sebagai tindakan proaktif untuk memutus efek buruk parental shaming, inilah beberapa hal yang bisa mommies dan daddies lakukan:

1. Terima kenyataan
Bahwa siapapun tak bisa lepas dari kemungkinan dikritik orang lain. Mari jadikan sebagai tantangan, kalau bisa bahkan dorongan untuk bertindak lebih baik dengan cara kita sendiri.

2. Pahami alasan
Selalu ada kemungkinan pelaku parental shaming melakukannya agar bisa merasa dirinya lebih baik. Bisa karena mereka ingin diapresiasi sebagai orang yang lebih berpengalaman, ataupun bisa karena mereka membutuhkan penebusan atas kesalahan mereka sendiri di masa lalu.

3. Gunakan waktu
Perbanyak berinterikasi dengan orang-orang yang mendukung serta menghargai pilihan anda, dan batasi interaksi dengan siapapun yang membuat Mommies dan Daddies cemas, khawatir, apalagi meruntuhkan rasa percaya diri (termasuk jika mereka adalah teman dan keluarga sendiri).

4. Tanggapi kritikan
Sampaikan alasan dan pemikiran pribadi mommies dan daddies secara logis. Jika kita merasa sakit hati atau direndahkan oleh cara penyampaian pendapat orang lain, ada baiknya menahan diri untuk tidak langsung bereaksi dan memasukkannya ke dalam hati. Beri waktu pada diri sendiri untuk bisa menanggapi dengan tenang dan sampaikan pada pelaku bahwa Mommies dan Daddies paham akan maksud baik mereka namun tidak setuju dengan caranya. Jika dinilai perlu, Mommies dan Daddies juga bisa memilih untuk tidak menanggapinya sama sekali.

5. Tidak ada yang sempurna, demikian juga di media sosial
Pahami bahwa apapun yang tampak di media sosial hanyalah sesuatu yang diijinkan oleh pemiliknya untuk kita lihat. Usahakan tidak terpengaruh oleh ‘kesan sempurna’ pola pengasuhan yang dilakukan orang lain, terutama yang tampak di media sosial. Kita tidak akan pernah benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup orang lain.

6. Hindari melakukan hal yang sama
Sebagaimana anda adalah orang yang paling tahu akan kondisi yang dihadapi, demikian pula dengan orang lain. Jika mommies dan daddies ingin berbagi tentang lucunya proses tumbuh kembang kiddos di media sosial tanpa harus berhadapan dengan komentar dan penilaian yang hadir tanpa diminta, selalu ada pilihan untuk mematikan kolom komentar. Hal yang sama juga bisa diterapkan bila mommies dan daddies merasa tidak setuju dengan pola asuh orang lain, akan selalu ada pilihan untuk tidak berkomentar, ataupun hanya menanggapi bila diminta.

Alangkah baiknya, jika pengalaman parenting yang kita bagi dan dapatkan di media sosial membawa lebih banyak berkat daripada membahayakan kondisi mental kita sendiri maupun orang lain.

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda