Marantina Napitu 17 Jan 2020

Analis Finansial Keluarga

Mau Hemat? Tiru Kebiasaan Orang Jepang Ini!

(0)
Bagikan:

Belajar dari negara lain untuk manajemen keuangan yang lebih baik tentu tidak ada salahnya. Walaupun tidak semuanya bisa otomatis dipraktekkan dalam kehidupan Mommies dan Daddies sehari-hari, tapi bisa jadi pengetahuan yang berharga.

Sama seperti Indonesia, kebanyakan keluarga di Jepang tergolong dalam kelas ekonomi menengah. Namun, biaya hidup di negeri Sakura tersebut sangat tinggi. Makanya, tidak heran bila keluarga di Jepang harus pintar-pintar dalam mengelola uang. Bahkan, di Jepang sudah terbentuk kebiasaan untuk memperhitungkan segala pengeluaran agar penghasilan yang didapat cukup untuk membiayai semua kebutuhan.

Berikut beberapa fakta mengenai kebiasaan orang Jepang mengelola uang:

Kenal Perencanaan Keuangan sejak Kecil

Para orangtua di Jepang tidak ragu-ragu mengenalkan tentang kebiasaan berhemat dan mengatur uang pada anaknya sejak dini. Di Jepang, pada akhir tahun, ada budaya “otoshidama”, yakni pembagian amplop berisi uang kepada anak-anak kecil menjelang akhir tahun. Dulunya sih, yang dibagi-bagikan adalah kue beras. Tapi seiring perkembangan zaman, kebiasaan ini diganti jadi pembagian uang. Ya, mirip pembagian angpao pada saat Imlek.

Nah, uang yang diterima oleh anak-anak ini tidak lantas dihabiskan. Anak-anak dibiasakan untuk langsung menyimpan uang “otoshidama” dalam bentuk tabungan dalam rekening bank. Jadi, uangnya bisa dipakai saat benar-benar dibutuhkan. Anak-anak jadi belajar bahwa semakin banyak uang yang mereka tabung, maka kualitas hidup mereka di masa depan bisa semakin bagus.

Kemudian, ketika anak sudah mulai bersekolah, orangtua membiasakan anaknya untuk bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang. Pekerjaan yang dimaksud bukanlah kerja formal, tapi dari hal kecil, misal membantu orangtua atau saudara di rumah atau di toko.

Lebih senang pegang uang tunai

Orang-orang dewasa di Jepang lebih senang memegang uang tunai. Menurut orang Jepang, dengan memegang dan bertransaksi dengan uang tunai, mereka jadi lebih aware dengan uang yang dimiliki. Dengan kata lain, kebiasaan ini menghindari mereka untuk overspending atau boros. Soalnya, kalau uang tunai sudah sedikit, mereka jadi lebih hemat lagi dalam berbelanja.


Penghasilan atau gaji orang Jepang tetap didepositokan di bank untuk mendapatkan bunga deposito. Namun, secara berkala, mereka memutuskan untuk mengambil uang tunai untuk mengontrol pengeluaran.

Berhutang itu tabu

Orang Jepang jarang sekali menggunakan kartu kredit untuk alat pembayaran. Mereka lebih senang menggunakan uang tunai alias cash dalam melakukan pembayaran. Pasalnya, orang Jepang sangat tidak suka berhutang. Bagi mereka, lebih baik bekerja paruh waktu atau sambilan untuk mendapatkan penghasilan ketimbang berhutang.

Menabung koin

Sebenarnya menabung koin bukan hal baru. Dahulu kala, orang Indonesia juga sudah mempraktekkan hal ini. Sekarang, koin dianggap sangat receh dan sering kali dihamburkan. Mommies Daddies pasti sering kan, memberikan uang koin untuk dimainkan Kiddo.

Namun, di Jepang, kebiasaan menabung koin masih dipelihara sampai sekarang. Mereka menyimpan koin dalam toples atau tabungan khusus. Bahkan, beberapa bank di Jepang menerima uang koin untuk disimpan.

Amplop untuk budgeting

Ternyata orang Jepang yang menemukan keunggulan mengelola uang dengan melakukan anggaran dalam amplop. Jadi, anggaran rutin disimpan dalam amplop yang berbeda sesuai dengan tujuannya, seperti belanja di supermarket, ongkos bis, makan di restoran, dan lain-lain.

Melalui anggaran dalam bentuk amplop ini, orang Jepang dengan sangat mudah melakukan rekam jejak dan mengevaluasi jumlah uang yang tersisa. Jadi, tidak perlu keteteran di akhir bulan karena uang sudah menipis.

Apakah Mommies dan Daddies mau meniru kebiasaan pengelolaan uang dari orang Jepang?


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda