Marantina Napitu 23 Jan 2020

Analis Finansial Keluarga

5 Kebiasaan Buruk Mengatur Keuangan

(0)
Bagikan:

Masalah keuangan tuh selalu bikin pusing, ya. Tidak punya uang di akhir bulan bikin pusing karena rasanya banyak yang ingin dibeli. Eh, punya uang juga tetap pusing karena cepat habis, sementara aset segitu-segitu saja. Lalu, harus bagaimana, dong?


Supaya urusan duit tidak bikin sakit kepala, tentu Mommies Daddies harus punya strategi baru. Tinggalkan kebiasaan keuangan yang buruk yang selama ini masih Mommies Daddies lakukan. Buktikan sendiri bahwa kebiasaan buruk ini yang menghalangi Mommies Daddies menjadi makmur.


1. Tidak punya anggaran yang jelas

Salah satu prinsip utama dalam pengelolaan keuangan ialah pengaturan anggaran sesuai pemasukan. Kalau Mommies Daddies merasa penghasilan atau pemasukan saat ini kecil, itu bukan masalah. Yang jadi kendala ialah bila pengeluaran melebihi penghasilan tersebut.


Jadi jangan ditunda lagi. Segera bikin anggaran keuangan sesuai dengan pemasukan. Potong pos pengeluaran yang tidak perlu agar di akhir bulan, Mommies Daddies tetap punya dana yang cukup untuk membiayai kebutuhan, bahkan bisa menabung dan berinvestasi.


Niscaya pada akhir tahun, Mommies Daddies melihat hasil dari membuat anggaran yang jelas dan terperinci. Mommies Daddies bisa pelajari cara membuat anggaran di artikel ini.


2. Tidak punya tujuan finansial

Kalau tidak punya tujuan, memang sulit menentukan rute atau jalan terbaik yang harus ditempuh. Sama seperti perencanaan keuangan. Apabila Mommies Daddies tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas, uang yang dimiliki bisa habis begitu saja, karena tidak tahu bagaimana mengelolanya sesuai tujuan.


Kategorikan tujuan finansial keluarga, mulai dari jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang. Misalnya, biaya liburan di akhir, atau biaya masuk sekolah kakak dua tahun mendatang, dan biaya DP rumah yang ingin dikumpulkan dalam lima tahun. Kalau sudah punya tujuan, Mommies Daddies bisa mengukur kemampuan dan membuat perencanaan untuk mencapai tujuan itu.


3. Tidak punya dana darurat

Menunda mengumpulkan dana darurat adalah salah satu bencana dalam pengelolaan keuangan. Tanpa dana darurat, Mommies Daddies hidup dalam ketidakpastian finansial. Apabila sewaktu-waktu terdapat pengeluaran tambahan yang genting dan mendesak, Mommies Daddies harus berhutang. Apalagi kalau bunga yang dikenakan atas hutang itu tinggi. Wah, perencanaan keuangan bisa ambyar. Jangan sampai seperti ini, ya!


4. Memprioritaskan gaya hidup

Orang zaman dahulu tidak mengenal yang namanya gaya hidup. Pengeluaran utama ialah kebutuhan hidup sehari-hari. Akan tetapi, sekarang, gaya hidup justru membutuhkan biaya besar. Berbagai tren yang berkembang rasanya ingin diikuti. Kalau tidak bijaksana, gaya hidup justru mencekik keuangan keluarga.


Mommies Daddies, tidak semua tren harus diikuti, loh. Hanya karena banyak orang suka ke mall atau doyan jajan boba drink, bukan berarti Mommies Daddies juga harus begitu. Cermatlah untuk memprioritaskan kebutuhan pokok keluarga dibandingkan menghamburkan uang untuk pengeluaran gaya hidup.


5. Punya hutang konsumtif

Saat ini, banyak sekali perusahaan yang mengatasnamakan dirinya sebagai financial technology yang berkedok rentenir. Perusahaan ini membuat aplikasi yang memudahkan orang untuk berhutang. Dengan bermodalkan foto identitas diri, seseorang bisa mendapatkan uang yang dibayar dengan mengangsur atau menyicil.


Namun, bunga yang dikenakan perusahaan penyedia pinjaman online ini mengenakan bunga yang tidak kecil. Semakin lama periode menyicil, semakin besar pula nominal bunga yang harus dibayar.

Nah, Mommies Daddies, kalau memang punya kebutuhan, usahakan dulu untuk menabung agar tidak berhutang. Dan kalaupun kepentok dan harus berhutang, pastikan Mommies Daddies sudah punya perhitungan untuk membayar dan tidak menunggak cicilan.


Selamat meninggalkan kebiasaan keuangan yang buruk. Semoga 2020 membawa kemakmuran bagi Mommies dan Daddies!


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda