Marantina Napitu 26 Feb 2020

Analis Finansial Keluarga

3 Pelajaran Keuangan dari Bencana Banjir di Awal Tahun

(0)
Bagikan:

Curah hujan yang tinggi di awal tahun serta penanganan yang kurang tanggap membuat banyak daerah di Jabodetabek mengalami banjir. Bahkan genangan air sampai hampir satu meter menyapa warga Jabodetabek di tanggal pertama di tahun ini.


Banyak orang menganggap banjir sebagai musibah.Tidak sedikit yang menyadari bahwa ini merupakan akibat dari kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan. Namun, bagaimanapun Mommies Daddies memandang banjir, ada beberapa masalah yang timbul karena banjir yang tak kunjung beres.


Menjelang akhir Februari ini saja, kawasan Jabodetabek serta beberapa provinsi lain sudah berkali-kali menghadapi banjir. Tentu saja ada dampak yang ditimbulkan, termasuk dampak untuk keuangan keluarga.


Tidak ada yang tahu kapan banjir akan berhenti datang, tapi tiga hal ini menjadi pelajaran utama, khususnya bagi saya:


1. Dana darurat itu penting sekali

Banjir datang tiba-tiba, bahkan hampir selalu di pagi hari. Ketika bangun dari tidur, baru menyadari bahwa daerah di dekat rumah sudah tergenang air. Bagi beberapa kawasan, banjir bahkan memasuki rumah warga sehingga tidak sedikit yang harus mengungsi.


Memang dalam rentang 24 jam, kemungkinan banjir sudah surut. Namun, bukan berarti masalah berhenti di situ saja. Ada biaya yang harus dikeluarkan karena banjir. Misalnya untuk membersihkan rumah. Ini berarti tagihan air dan listrik membengkak karena banyak baju atau furnitur yang harus dicuci. Begitu juga untuk membersihkan rumah dari lumpur. Belum lagi bila kendaraan sempat tergenang banjir. Tentu saja, Mommies Daddies harus merogoh kocek untuk perbaikan kendaraan.


Apalagi kalau ternyata, ada bagian rumah yang harus direnovasi karena didera hujan dan banjir berkali-kali. Semua ini butuh uang.


Alangkah aman dan nyamannya bila Mommies Daddies sudah punya dana darurat. Dus, pusing karena banjir setidaknya bisa berkurang karena tahu bahwa Mommies Daddies sudah menyiapkan dana khusus untuk keperluan mendadak.


Di samping itu, ketika banjir, ada kemungkinan harga pangan naik karena butuh usaha lebih untuk mendistribusikan makanan. Artinya, ada peningkatan pengeluaran rutin. Kalau Mommies Daddies punya dana darurat, tambahan pengeluaran itu bisa diambil dari dana darurat. Tetap ingat ya, setelah digunakan, tambah lagi dana darurat sesuai dengan kebutuhan Mommies Daddies, yakni 9 kali pengeluaran bulanan untuk keluarga dengan satu anak atau 12 kali untuk keluarga dengan dua anak.


2. Siapkan asuransi


Seperti yang sudah disebutkan pada poin sebelumnya, beberapa dampak banjir ialah kerusakan barang elektronik, kendaraan, sampai bagian rumah. Bahkan, ada kemungkinan penyakit menyerang anggota keluarga.


Nah, untuk menanggung dampak tersebut, Mommies Daddies bisa menyerahkannya pada pihak asuransi. Tinggal klaim kerugian yang Mommies Daddies alami, lalu biarkan pihak asuransi memprosesnya.


Namun sebelum itu terjadi, tentu Mommies Daddies sudah harus memiliki asuransi. Pastikan faktor banjir sudah termasuk dalam polis asuransi yang Mommies Daddies miliki untuk melindungi diri, keluarga, serta aset dari dampak banjir.


3. Perencanaan keuangan yang fleksibel


Mungkin Mommies Daddies sudah membuat perencanaan keuangan keluarga di awal tahun atau awal bulan. Akan tetapi, banjir membuat Mommies Daddies harus mengubah beberapa hal.


Tenang saja, Mommies Daddies. Perencanaan keuangan bukanlah garisan tangan dari Ilahi yang saklek dan tidak bisa diganggu gugat. Mommies Daddies mungkin sudah merencanakan liburan, tapi karena banjir, dana liburan harus terpakai. Jangan lantas bersedih. Ini saatnya Mommies Daddies bersikap fleksibel terhadap perencanaan yang sudah dibuat.


Banjir memang bukan hal menyenangkan. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Semoga pemerintah lebih tanggap dalam mengatasi banjir dan masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda