Marantina Napitu 16 Mar 2020

Analis Finansial Keluarga

Potensi Untung Menarik, Simak 3 Pilihan Investasi di Obligasi Pemerintah

(0)
Bagikan:

“Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.” Ini adalah salah satu prinsip utama dalam berinvestasi. Artinya, dana investasi yang Mommies Daddies miliki sebaiknya tidak digunakan untuk satu jenis investasi saja.


Sebagai contoh, dengan total penghasilan Rp 10 juta, Mommies Daddies mungkin bisa menyisihkan Rp 2 juta untuk investasi. Nah, dana Rp 2 juta itu baiknya dibagi ke dalam beberapa jenis investasi, misalnya reksadana, deposito, atau saham.


Salah satu jenis investasi yang juga bisa dipertimbangkan ialah obligasi pemerintah. Memang, ketimbang obligasi korporasi, tingkat bunga obligasi pemerintah cenderung kecil. Tapi, potensinya tetap menarik untuk dijajaki. Apalagi resikonya tidak terlalu besar, karena pemerintah yang menjamin. Bahkan saat situasi pasar kondusif, ada kalanya bunga obligasi pemerintah mengungguli bunga obligasi korporasi.


Sebenarnya jenis obligasi pemerintah ada banyak. Namun, yang mudah dijajaki dengan modal yang relevan dengan keuangan rumah tangga, antara lain:


1. Obligasi ritel Indonesia (ORI)

ORI merupakan obligasi negara yang dijual kepada individu atau perorangan yang merupakan warga negara Indonesia (WNI) melalui agen penjual dengan volume minimum yang telah ditetapkan. Sebagai obligasi ritel pemerintah, ORI pertama kali diterbitkan pada 2006. Setelah penerbitan perdana itu, ORI diterbitkan sekali tiap tahun.


Untuk bisa menjadi investor ORI, Mommies Daddies harus menyiapkan dana minimal Rp 5 juta dan kelipatannya hingga Rp 5 miliar. Mommies Daddies bisa membeli ORI melalui agen penjualan bank atau sekuritas yang menawarkan nilai kupon yang tetap. Misalkan, ORI-015 ditawarkan dengan kupon sebesar 8,25% dan tetap hingga tanggal jatuh tempo.


ORI diperjualbelikan di pasar sekunder. Pasar sekunder merupakan istilah yang digunakan dalam pasar modal. Di pasar sekunder, investor bisa memperjualbelikan efek (obligasi, sukuk, saham) setelah diterbitkan pertama kali.


2. Sukuk ritel (Sukri)

Sukri pertama kali diterbitkan pada 2009. Setelah itu, tiap tahun pemerintah menerbitkan Sukri minimal sekali. Karakteristik Sukri mirip dengan ORI. Bedanya, Sukri bukanlah surat utang, melainkan surat berharga syariah yang menjadi bukti kepemilikan atas aset alias underlying asset SBN yang disewakan.


Sukuk ritel dijual kepada investor indiviu dengan pembelian minilam Rp 5 juta. Imbal hasilnya pun bersifat tetap dan dibayarkan tiap bulan.


Ketika Mommies dan Daddies membeli sukuk ritel, maka ada akad syariah yang digunakan ialah akad Ijarah Asset to be Leased. Keuntungan dari sukuk ritel didapatkan dari bagi hasil yang nilainya sudah tetap. Karena menggunakan prinsip Ijarah, maka Anda bisa memperjualbelikan sukuk ritel di pasar sekunder.


3. Saving bond ritel (SBR)

Meskipun sama-sama obligasi ritel, yang membedakan SBR dengan ORI ialah bunga yang dibayarkan. Saat membeli SBR, Mommies dan Daddies mendapatkan bunga mengambang alias tidak tetap.


Ambil contoh SBR002 yang terbit pada 2016 silam. Produk obligasi ini punya bunga mengambang minimal 7,5% per tahun. Akan tetapi, nilai kupon ini bisa berubah, tergantung dari hasil review yang dilakukan sekali dalam tiga bulan.


Berbeda dengan ORI dan Sukri, SBR tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder. Investor SBR hanya mendapat keuntungan dari kupon yang ditawarkan.


Nah, kalau sudah punya gambaran tentang obligasi pemerintah, jangan lupakan juga tujuh poin penting dalam investasi obligasi, yakni lembaga yang berutang atau menerbitkan obligasi, besar bunga atau kupon yang harus dibayar, periode pelunasan dalam satuan tahun, periode pembayaran, penjamin pelaksana emisi obligasi, wali amanat, serta jumlah pokok utang yang harus dibayarkan.


Selamat memilih jenis obligasi pemerintah yang terbaik untuk Mommies dan Daddies!


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda