Marantina Napitu 03 Apr 2020

Analis Finansial Keluarga

Menabung atau Berinvestasi, Mana yang Harus Jadi Prioritas Mommies dan Daddies?

(0)
Bagikan:

Seorang teman mengeluh karena di usia yang sudah menginjak “kepala 3”, dia belum punya aset sama sekali. “Ada sih tabungan, tapi tidak banyak,” ujarnya. Ketika saya tanya investasi yang dimiliki, dia hanya tertawa miris dan menjawab bahwa dia belum berani berinvestasi.

Teman saya yang lain bercerita mengenai kenaikan nilai saham yang dia miliki. Dia bilang, keuntungannya bisa mencapai jutaan rupiah. Lalu saya penasaran, apakah keuntungan itu akan ditabung atau diinvestasikan lagi. Sang teman menjawab, “Semua uang yang bukan untuk pengeluaran saya investasikan supaya cuan. Kalau ditabung, saya tidak dapat untung dari bank,” ucapnya.

Saya tidak mau menghakimi karena pasti teman saya punya pertimbangan masing-masing untuk keputusan yang mereka ambil. Namun, menurut saya, ini topik yang menarik untuk dibahas.

Ketika Mommies Daddies mendapat penghasilan, apakah semuanya digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup dan gaya hidup? Apakah masih ada yang tersisa untuk ditabung atau diinvestasikan?

Kalau semuanya habis, sejujurnya ada baiknya Mommies Daddies melakukan evaluasi ulang untuk bisa mengurangi jumlah pengeluaran atau berpikir untuk menambah penghasilan. Pasalnya, secara ideal, penghasilan seseorang mencakup biaya kebutuhan dan pos untuk ditabung atau diinvestasikan. Dengan cara ini, Mommies Daddies bisa meningkatkan taraf hidup keluarga.

Tapi, mana yang harus didahulukan, uang untuk tabungan atau investasi? Menabung adalah kegiatan menyimpan uang tunai. Supaya aman, kebanyakan orang menabung di bank, karena dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tapi kalau merasa aman, Mommies Daddies bisa menyimpan uang di rumah atau bahkan di bawah kasur.

Tujuan menabung ialah agar Mommie Daddies bisa mengakses uang tunai secara mudah dan cepat ketika dibutuhkan. Makanya, banyak perencana keuangan menyarankan untuk menyimpan dana darurat dalam bentuk tabungan atau deposito. Keduanya adalah produk perbankan yang mudah diakses saat dibutuhkan.

Sementara itu, ketika berinvestasi, gunakanlah uang dingin alias uang nganggur. Artinya, uang tersebut belum punya tujuan atau tidak digunakan untuk membiayai apapun.

Misalkan total penghasilan Mommies Daddies adalah Rp 10 juta per bulan. Dari nilai itu, Mommies Daddies gunakan Rp 8 juta untuk membiayai keperluan sehari-hari dan membayar cicilan. Lalu ada sisa Rp 2 juta. Apabila Mommies Daddies sudah mengumpulkan dana darurat, uang Rp 2 juta ini bisa diinvestasikan. Namun, jika dana darurat belum terkumpul, sebaiknya Mommies Daddies prioritaskan uang Rp 2 juta itu untuk ditabung agar dana darurat terkumpul. Ada juga opsi lain, yakni sebagian untuk ditabung dan sebagian lagi untuk diinvestasikan.

Pasalnya, risiko investasi lebih besar ketimbang menabung. Ketika berinvestasi, ada risiko uang Mommies Daddies hilang karena rugi. Untuk keluarga yang berinvestasi dengan dana menganggur, hal ini bukan masalah besar. Toh, kebutuhan sehari-hari serta dana darurat sudah punya. Walaupun tentu saja harus lebih berhati-hati lagi dalam menginvestasikan uang.

Beda halnya bila Mommies Daddies memprioritaskan investasi saat tidak punya tabungan atau dana darurat yang cukup. Ketika risiko investasi menghampiri, Mommies Daddies akan kehilangan uang yang sebetulnya dibutuhkan saat keperluan darurat. Dampaknya akan terasa berat bagi keuangan keluarga.

Jadi, sudah tahu kan, mana yang prioritas?

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda