Astrid RS Wiratna 27 May 2020

Psikolog Klinis, Founder @dearastrid

Hati-Hati Ketika Orang tua Memarahi Anak

(0)
Bagikan:

Semua dampak buruk yang berkembang di dalam diri anak membutuhkan proses yang panjang dan harus terjadi berulang-ulang secara konsisten. Kalau satu dua kali Mommies atau Daddies memarahi anak dengan galak, yang terjadi adalah anak akan belajar bahwa dalam situasi lelah Mommies atau Daddies bisa bersikap galak.

Pada dasarnya untuk mengembangkan kehidupan emosional yang sehat pada seorang anak bukan hanya pengalaman menyenangkan saja yang harus dialami seorang anak, emosi itu ada yang positif dan ada yang negatif, anak perlu mempelajari keduanya untuk mengembangkan pola adaptasi yang akan menjadi respon emosionalnya kelak. Semakin banyak pengalaman emosional seorang anak (positif dan negatif) semakin besar kemungkinan bagi anak untuk mengembangkan pola perilaku emosional yang matang dan adaptif.

Pemahaman tentang emosi berkembang karena pengalaman, kecerdasan emosional tidak dibawa dari lahir, jadi anak memang membutuhkan berbagai nuansa emosional untuk mengembangkan kecerdasan emosinya. Pusat emosi ada di otak dan walaupun ada tanggapan emosional yang bersifat spontan, kebanyakan tanggapan emosional itu hasil belajar sepanjang hidup.

Oleh karena itu, jika Mom ingin pengalaman emosional anak berdampak positif bagi anak, setelah Mom menyadari bahwa Mom memarahi anak dengan galak, maka dekati anak dan sampaikan bahwa kemarahan yang galak tadi itu akibat Mom yang terlalu lelah. Sampaikan dengan lembut dan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh anak.

Berikutnya, dalam kondisi yang sangat melelahkan, sebelum kemarahan Mom meledak dengan galaknya, ingatkan anak bahwa situasi tersebut bisa memunculkan galaknya Mom, oleh karena itu anak diminta untuk tidak rewel, lebih bagus jika disampaikan juga pada anak bahwa baik Mom maupun anak dalam kondisi tersebut sama lelahnya jadi lebih baik sama-sama menahan diri.

Pembelajaran emosi adalah salah satu proses belajar yang paling berat dalam perkembangan anak, tetapi orangtua yang bersedia membuka diri dan mau membantu anak untuk memahami dinamika emosi memiliki peluang besar untuk mengembangkan anak yang secara emosional sehat.


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda