Marantina Napitu 08 Jun 2020

Analis Finansial Keluarga

Melunasi KPR Hanya 4 Tahun, Begini Caranya Mommies & Daddies

(0)
Bagikan:




Saya dan suami duduk dalam diam di bangku KRL pada akhir Desember 2015. Jarang sekali kami naik transportasi publik berdua. Biasanya suami ke kantor naik motor dan saya memilih naik kendaraan umum.

Namun ada yang berbeda hari itu. Kami baru saja selesai menandatangani perjanjian alias akad kredit rumah pertama di bank yang cukup jauh dari rumah. Makanya, kami memutuskan naik KRL.

Setelah melewati berbagai proses, muncullah kesepakatan bahwa kami harus membayar jumlah cicilan sekian juta rupiah dalam jangka 25 tahun. Masing-masing kami membubuhkan tanda tangan pada akad sebagai bentuk sepakat.

Untuk memecah keheningan, saya berkata, "Nanti anak sudah kuliah, kita masih harus bayar cicilan rumah, loh" Padahal saat itu, hamil saja belum. Kenyataan terasa pahit bagi kami. Ada sedikit penyesalan karena rasa-rasanya kami memaksakan diri untuk punya rumah.

Saya akui bargaining power kami cukup rendah saat itu. Makanya, pihak bank menentukan periode cicilan yang sangat panjang dalam rangka menekan jumlah cicilan yang harus kami bayar.

Namun kemudian, kami menganggap ini sebagai berkah. Pasalnya, nilai cicilan KPR hanya sekitar 20% dari total penghasilan kami. Artinya, kami lebih leluasa untuk menabung dan menginvestasikan uang kami di instrumen lain.

Setelah beberapa bulan membayar cicilan rumah, kami juga menyadari bahwa cicilan itu tidak mengurangi jumlah pinjaman di bank secara signifikan, melainkan untuk membayar bunga KPR.

Kami pun semakin gencar menabung. Setelah 1,5 tahun, kami mulai melakukan pembayaran dalam jumlah besar. Kami dikenakan fee sebesar 1% dari pembayaran tersebut. Tapi tak mengapa, yang penting jumlah hutang kami berkurang dan bunga yang kami bayarkan tidak membengkak.

Beberapa kali kami lakukan pembayaran dalam jumlah besar seperti ini. Kebetulan kami diberikan rezeki ketika saya resign dari

kantor dan suami pindah dinas ke luar Jakarta. Pada awal tahun 2019, tadinya kami berencana melunasi semua hutang KPR. Tapi setelah dihitung-hitung, tidak ada keuntungan apabila kami langsung melunasi hutang dibandingkan membiarkan cicilan berakhir pada akhir tahun 2019.

Ternyata, berbeda dari bayangan saya, KPR bisa dilunasi bahkan sebelum anak mulai sekolah alias dalam waktu empat tahun saja. Lalu, pelajaran apa yang saya dapat dari kisah ini?

Punya rumah ketika siap, bukan sekadar ingin

Proses menikah dan memiliki rumah bagi saya mirip. Jangan sampai memutuskan untuk membeli rumah hanya karena ingin, tapi memang sudah siap dengan konsekuensinya, seperti disiplin membayar cicilan dan menyiapkan dana untuk perawatan rumah. Salah satu alasan saya membeli rumah karena harga rumah terus naik. Sementara kalau menyewa rumah, uang yang saya bayar tidak berubah jadi aset. Makanya, saya memilih membayar cicilan ketimbang bayar sewa. Namun, ini harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Hitung detail

Banyak situs menawarkan layanan kalkulator untuk menghitung berapa dana yang dibutuhkan untuk menyicil rumah. Namun, Mommies dan Daddies harus punya hitungan yang detil.

Dengan kondisi keuangan keluarga sekarang, berapa harga rumah yang sanggup dibeli. Lantas, berapa potensi kenaikan harga atau biaya sewa apabila rumah harus dijual atau disewakan. Niscaya, Mommies dan Daddies lebih jernih dalam mengambil keputusan.



(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda