Siswa Dewantara 13 Jun 2020

Psikolog Anak, Founder @latihati

Mensiasati Kebiasaan Anak Nonton Youtube

(0)
Bagikan:

Anonymous

User

Anak saya belakangan ini sedang susah makan. Saya mencoba berbagai cara supaya ia mau makan. Akhirnya, saya setelkan YouTube saat ia makan dan ia jadi mau makan. Tapi saya jadi khawatir, ada dampaknya nggak ya makan sambil nonton YouTube? Terima kasih.


Siswa Dewantara

Psikolog Anak, Founder @latihati


Sebenarnya tidak ada dampak apa-apa dari makan sambil nonton YouTube selain bahwa anak Ibu akan punya kebiasaan menonton YouTube sambil makan. Artinya, ada kemungkinan ia akan jadi tidak bisa makan tanpa YouTube. Sekarang pertanyaannya saya kembalikan ke Ibu, Ibu sendiri setuju tidak itu jadi kebiasaan? Kalau ibu tidak keberatan, ya tidak ada masalah.

Kalau ibu keberatan dengan itu, maka ibu perlu membuat strategi supaya anak ibu mau menonton tanpa YouTube. Ada banyak cara yang ibu bisa pakai.

  1. Cara menipu. Mungkin terdengar jahat, tetapi kalau boleh jujur ini cara yang cukup sering digunakan orang tua dalam menghadapi anaknya. Contohnya: “Nak, hari ini nggak bisa nonton YouTube ya soalnya paket datanya habis”. (padahal tidak habis) Ada resiko dari cara ini, yaitu suatu hari anak akan sadar bahwa ia telah ‘ditipu’ dan akhirnya jadi belajar untuk meniru perilaku itu juga.

  2. Cara Merayu. “Nak, makan ya.. Kalau mau makan, nanti ibu belikan permen..” Cara ini mungkin saja efektif, tetapi akan membentuk kebiasaan baru, yaitu dirayu dulu baru mau. Selain itu, biasanya makin lama kadar rayuannya harus makin manis karena anak menjadi kebal terhadap rayuan itu sendiri. Jadi, kalau ibu tidak keberatan terus-menerus merayu ya boleh saja digunakan.

  3. Cara Beriklan. Cara ini dilakukan bukan saat sedang makan, tetapi saat sedang melakukan aktivitas lain, misalnya baca cerita tentang Beruang yang suka makan. Ibu bisa menyelipkan pesan “Tuh, kan… beruang ini suka makan, makanya dia bisa pintar. Kalau adek mau pintar, berarti adek juga harus makan ya..” Seperti juga iklan di TV, efektivitasnya sangat bergantung dari penontonnya. Jadi, seperti juga pengiklan di TV, harus rela pasang iklan sering-sering ya..

  4. Cara Memaksa. “Ayo aaa, buka mulutnya! Makan!” Cara paksa ini sering kali diikuti ancaman. Kalau cara ini berhasil, maka anak ibu akan menjadi takut dan menurut, tetapi kemungkinan ia akan menuntut untuk diarahkan terus sepanjang hidupnya. Sehingga, akan tidak adil jika ibu suatu hari menuntutnya menjadi seorang yang kreatif dan mampu mengambil keputusan sendiri, misalnya.

  5. Cara Pilihan. Pilihan ini macam-macam, tetapi umumnya bisa dimulai dengan memberikan pilihan yang sama-sama enak atau disukai oleh anak. Misalnya, “Kamu mau makan nasi goreng atau mie goreng hari ini?” (kalau memang itu dua menu favorit si Anak). Biasanya dengan diberikan pilihan, si Anak akan cenderung lebih tertarik untuk makan karena merasa ia yang mengambil keputusan itu.

  6. Cara Berdagang. Buat kesepakatan dengan anak tentang apa yang akan ia dapatkan atau apa yang bisa tidak perlu dia lakukan jika ia mau makan. Yang pertama berkaitan dengan hal yang anak inginkan, misalnya menonton YouTube. Yang kedua berkaitan dengan hal yang tidak anak inginkan, misalnya tidur sendiri. Jadi, anak tidak akan bisa mendapatkan yang dia inginkan atau menghindari kewajibannya jika ia tidak memenuhi kesepakatan itu. Cara ini akan membuat anak terbiasa untuk berdagang dan bernegosiasi, sebuah keterampilan yang akan terus berguna sepanjang hidupnya.

Selamat mencoba!



(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda