Marantina Napitu 15 Jun 2020

Analis Finansial Keluarga

Berhutang Yang Bikin Kaya, Bisakah?

(0)
Bagikan:

Berhutang acapkali dianggap tabu dan dihindari sebagian orang. Namun, ada juga yang terbiasa berhutang demi memenuhi kebutuhan maupun keinginan. Mommies dan Daddies termasuk yang mana?

Di era modern seperti ini, berhutang tampaknya tidak bisa dihindari. Kebutuhan terus meningkat, sementara penghasilan belum tentu naik seiring dengan kebutuhan. Bagi sebagian orang, berhutang menjadi solusi.

Sejatinya, tidak semua utang itu buruk atau jelek. Apabila Mommies dan Daddies tahu memanfaatkan utang dengan baik, ada potensi utang malah menambah jumlah aset atau kekayaan keluarga.

Coba perhatikan para pengusaha besar. Mereka tidak ragu mengajukan permohonan utang. Pasalnya, mereka yakin, setelah mendapat uang pinjaman, mereka bisa mengelola uang tersebut untuk membesarkan bisnis. Ini yang dinamakan dengan utang produktif. Mommies Daddies pun bisa memiliki utang produktif dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Sama seperti pengusaha, Mommies Daddies harus pintar mengelola sampai uang pinjaman itu bisa meningkatkan jumlah aset atau kekayaan.

Kita tidak sedang berbicara tentang jenis kredit, seperti kredit kepemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit mikro untuk usaha, atau sebagainya. Pasalnya, utang produktif tidak ditentukan oleh jenis utang tersebut, namun bagaimana pengelolaannya. Yuk, perhatikan beberapa prinsip utang produktif:

1. Punya manfaat finansial

Ketika berhutang, pasti Mommies Daddies punya banyak pertimbangan. Nah, untuk memastikan utang yang Mommies Daddies punya adalah utang produktif, yang jadi pertimbangan ialah utang tersebut punya manfaat finansial.

Sebagai contoh, Mommies Daddies mengajukan permohonan KPR. Mommies Daddies harus hitung dulu, berapa potensi kenaikan harga rumah tersebut, dibandingkan dengan bunga KPR yang Mommies Daddies bayarkan.

Apabila potensi kenaikan harga rumah ternyata di bawah nilai yang Mommies Daddies bayarkan untuk memiliki rumah tersebut, KPR menjadi utang konsumtif. Sebaliknya, jika rumah tersebut punya potensi kenaikan harga yang lebih tinggi ketimbang nilai uang yang Mommies Daddies keluarkan, KPR menjadi utang produktif.

Sama halnya dengan membeli kendaraan seperti mobil secara kredit. Jika mobil hanya digunakan untuk keperluan pribadi tanpa ada potensi pendapatan dari kepemilikan mobil tersebut, maka kredit mobil merupakan utang konsumtif. Tapi jika mobil bisa digunakan untuk mendapat penghasilan dari penumpang (online transportation) atau dijadikan kendaraan niaga, kredit mobil merupakan utang produktif.

2. Menambah aset

Dengan mendapatkan uang pinjaman, Mommies Daddies harus memastikan dan menghitung secara cermat sehingga ada penambahan nilai atau aset keluarga. Dari contoh yang sama, yakni KPR atau KKB, Mommies Daddies harus hitung, apakah setelah kredit dibayar lunas, rumah atau kendaraan tersebut menambah aset keluarga atau malah menjadi beban finansial.

Contoh utang produktif yang bisa menambah aset ialah berhutang untuk membangun rumah kontrakan atau kos-kosan. Setiap bulan, Mommies Daddies harus membayar cicilan pada pihak bank. Dengan mengontrakkan rumah atau menjadikannya kos-kosan, Mommies Daddies menerima uang dari penyewa. Dengan kata lain, penyewa yang membayar cicilan pada pihak bank. Di sisi lain, rumah tersebut akan jadi milik Mommies Daddies dan menjadi aset berharga di masa depan.

3. Pengelolaan keuangan yang matang

Sebelum Mommies Daddies mendatangi bank untuk mengajukan utang produktif, perlu diketahui bahwa pengelolaan keuangan keluarga harus sudah matang. Artinya, Mommies Daddies sudah punya perencanaan dalam pelunasan utang tersebut.

Ini kembali dalam manajemen keuangan keluarga. Apakah Mommies Daddies sudah disiplin dalam menabung dan berinvestasi? Apakah dana darurat sudah terkumpul? Apakah Mommies Daddies sudah memiliki asuransi? Kalau jawabannya iya, kemungkinan besar, Mommies Daddies sudah siap untuk mengajukan utang produktif. Namun, kalau jawabannya tidak, Mommies Daddies bisa membenahi dulu pos-pos penting dalam keuangan keluarga. Terakhir, pastikan utang yang Mommies Daddies miliki tidak melebihi 30% dari penghasilan keluarga.

Semua demi keuangan keluarga yang aman dan nyaman. Jadi, sudah siap punya utang produktif?


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda