Siswa Dewantara 30 Sep 2019

Psikolog Anak, Founder @latihati

Tips Mengatasi Anak Tantrum di Pagi Hari

(0)
Bagikan:

Anonymous

User

Saya punya anak laki-laki berusia tiga tahun. Dia selalu memaksa pakai hp segera setelah bangun tidur. Sebenarnya saya tidak setuju, tetapi saya sering kali tidak bisa menolak karena kalau ditolak dia jadi marah dan susah untuk diatur, seperti susah diajak mandi, sarapan, dan jadi terlambat berangkat ke sekolah. Jadi bagaimana cara saya bisa menolak permintaannya ya? Terima kasih sebelumnya.

Siswa Dewantara

Psikolog Anak, Founder @latihati

Saya mengerti kalau sebagai orang tua terkadang sulit bagi kita untuk menghadapi perilaku anak, tetapi sebenarnya Ibu perlu untuk melihat dulu apakah perilaku itu merupakan ekspresi emosi atau strategi karena sebaiknya keduanya perlu ditangani dengan berbeda.

Emosi itu merupakan reaksi atas sesuatu yang mengganggu kenyamanannya, sedangkan strategi merupakan cara yang dia pilih untuk mendapatkan apa yang dia mau atau menghindari apa yang dia tidak mau. Jadi, satu perilaku yang sama bisa merupakan emosi di suatu kondisi dan strategi di kondisi lainnya.

Misalnya, saat anak dicubit dan dia kesakitan, mungkin dia akan menangis untuk mengekspresikan rasa sakitnya, tetapi menangis itu bisa juga dilakukan untuk menarik perhatian orang lain agar datang menolong dia dan menegur orang yang mencubitnya. Yang pertama adalah emosi, sedangkan yang kedua adalah strategi. Perbedaan mendasarnya memang tidak kelihatan karena bersumber dari benak si anak, sehingga untuk bisa membedakannya kita perlu merasakan energi yang mendorong perilakunya. Jadi, kalau kembali ke permasalahan Bu Ani tadi, Ibu perlu merasakan dulu sebenarnya marahnya itu ekspresi emosi atau strategi. Kalau ibu rasa itu emosi yang aman, ibu cuma perlu mendampinginya saja. Kalau sudah selesai, ibu bisa mengajaknya kembali menyelesaikan situasi yang tadi memicu emosi, misalnya mengajaknya bangun dan berangkat ke kamar mandi. Kalau marahnya itu merupakan ekspresi emosi, tetapi cenderung berbahaya, misalnya ia marah dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding, maka ibu perlu mengamankan situasinya, misalnya dengan menaruh bantal di dinding atau dengan memeluknya. Lalu, setelah ia selesai menuntaskan emosinya, ibu bisa menceritakan kepadanya mengapa ia diamankan. Selanjutnya, ibu bisa menceritakan alternatif cara yang bisa dia lakukan kalau lain kali ia marah. Sedangkan, kalau ibu merasa marahnya itu strategi yang masih dalam situasi yang aman dan ibu ingin menggagalkan strateginya, maka ibu perlu mengabaikan dia secara lahir dan batin. Kalau itu merupakan strategi yang berbahaya, maka Ibu tetap perlu mengabaikannya secara lahir batin, tetapi sambil mengamankan korbannya. Agak mirip dengan penanganan emosi yang berbahaya tadi, tetapi bedanya setelah strateginya sudah selesai, jangan dibahas lagi dengan si Anak. Ibu bisa terus berperilaku dan menjalani aktivitas dengan anak seperti biasa. Tanda bahwa strateginya sudah selesai adalah jika perilakunya sudah seperti biasa lagi, bukan kalau dia sudah tenang karena tenang bisa jadi hanya aktivitas beristirahat, untuk lanjut lagi kemudian atau untuk cari strategi lain, bukan sudah selesai. Demikian Bu, semoga dapat membantu ya.

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda