Marantina Napitu 14 Oct 2019

Analis Finansial Keluarga

Banyak Anak Banyak Rejeki, Benarkah?

(0)
Bagikan:

Dahulu kala, ketika para petani atau peternak merencanakan punya anak, yang ada di benak mereka adalah anak-anak bisa dijadikan aset produktif. Pasalnya, mereka bisa memperkerjakan anak-anak di ladang atau peternakan. Secara finansial, ini adalah solusi ideal bagi mereka.


Akan tetapi, zaman sudah berubah, Mommies dan Daddies. Sekarang, alih-alih menjadikan anak sebagai aset finansial, justru punya anak berarti Mommies dan Daddies harus mempersiapkan banyak hal. Dengan kata lain, ada biaya yang harus dikeluarkan bahkan sejak kehamilan.


Seberapa besar biaya yang harus disiapkan saat memutuskan memiliki anak? Simak penjabaran singkat berikut, ya.


  1. Biaya kesehatan

Sejak dinyatakan hamil yang ditandai munculnya tanda positif atau dua garis pada test pack, Mommies dan Daddies pasti tersenyum lebar atau terharu. Bayangan indah akan kehadiran anggota baru dalam keluarga menghias benak Mommies dan Daddies.


Bukan bermaksud merusak suasana, tapi realita baru juga harus dihadapi, yakni membawa sesosok manusia mungil ke dunia butuh biaya. Sejak awal kehamilan, Mommies harus memeriksa kondisi janin yang dikandungnya ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi alias SpOG.


Biaya tiap kali pemeriksaan di SpOG beragam dari Rp 150.000 - Rp 500.000. Pemeriksaan janin ini bisa dilakukan sampai 12 kali. Artinya, Mommies dan Daddies butuh biaya sekitar Rp 1,8 juta - Rp 6 juta. Alternatif lebih hemat ialah memeriksakan kandungan di bidan atau menggunakan layanan BPJS Kesehatan.


Selain itu, ada juga biaya untuk USG yang tarifnya Rp 100.000 - Rp 250.000 untuk USG dua dimensi. Sementara biaya USG 3D sebesar Rp 300.00 - Rp 500.000. Biaya USG 4D sekitar Rp 800.000. Mommies dan Daddies bisa pilih layanan USG yang dibutuhkan karena dua dimensi saja sebenarnya sudah cukup untuk melihat kondisi si Kecil di dalam kandungan.


  1. Peralatan bayi

Produk-produk untuk bayi didesain dengan sangat menggemaskan buat para orangtua. Nyatanya, si Kecil tidak begitu peduli apakah crib yang jadi tempat tidurnya imut atau tidak.


Semua orangtua ingin memberikan yang terbaik bagi buah hati. Namun, yang terbaik bukan berarti harus yang mahal. Toh, peralatan bayi sesungguhnya hanya digunakan sebentar.


Bahkan, bila ingin menekan pengeluaran dalam mempersiapkan kelahiran bayi, pengeluaran peralatan bayi ini bisa dikurangi dengan membeli barang preloved atau menyewa dari toko penyewaan alat kebutuhan bayi yang saat ini banyak jumlahnya.


  1. Nutrisi bayi

Untuk bertumbuh dan berkembang, si Kecil butuh nutrisi yang cukup. Pada tahun pertama, susu merupakan sumber nutrisi dan energi utama bagi bayi. Mommies dan Daddies bisa memilih air susu ibu atau susu formula sesuai sesuai dengan kondisi kesehatan dan kondisi kantong.


Begitu juga dengan makanan saat si Kecil memasuki masa MPASI. Mommies dan Daddies bisa masak sendiri atau membeli makanan bayi atau mengombinasikan keduanya. Sekali lagi, kondisikan sesuai kebutuhan.


Yang jelas, biaya pasti menjadi pertimbangan karena umumnya susu formula dianggap lebih mahal ketimbang memberi ASI. Namun, masak di rumah juga belum tentu lebih murah dibandingkan beli makanan untuk bayi.


  1. Pengasuh

Salah satu pengeluaran terbesar setelah bayi lahir ialah membayar pengasuh, baik ART atau nanny di rumah maupun pengasuh di daycare. Alokasikan sekitar Rp 1 juta - Rp 3 juta bila berencana menggunakan jasa pengasuh.


Pilihan yang bisa jadi lebih hemat ialah menitipkan anak untuk diasuh kakek nenek. Atau, Mommies atau Daddies sepenuhnya di rumah untuk mengasuh anak. Namun, tentu tidak semua orang punya keleluasaan untuk memilih ini. Jadi, sekali lagi, sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga.


Jadi menurut Mommies dan Daddies, anggapan banyak anak banyak rejeki masih relevan, nggak, sih?


(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda