Marantina Napitu 01 Nov 2019

Analis Finansial Keluarga

5 Hal Penting Belajar Investasi Bagi Pemula

(0)
Bagikan:

Investasi kerap kali dibayangkan sebagai topik yang rumit dan serius. Banyak orang selalu menganggap dirinya terlalu awam untuk membahas investasi. Padahal, para pakar investasi yang namanya sudah tenar bermula sebagai pribadi yang awam di dunia investasi. Yang membedakan hanyalah kemauan belajar, baik dari pengalaman hidup orang maupun dari kesalahan yang dibuat sendiri.
Seperti bersepeda, Mommies dan Daddies tidak akan benar-benar bisa mengetahui apa itu investasi tanpa mempraktekkannya. Namun, jangan juga gegabah dan asal taruh uang pada suatu instrumen investasi.

Untuk membantu Mommies dan Daddies mengambil keputusan saat berinvestasi, ada setidaknya lima pertanyaan wajib yang harus diajukan ke diri sendiri maupun pasangan.

1. Berapa uang yang Mommies Daddies rela jika hilang?
Saat melihat skema investasi, biasanya Mommies Daddies langsung membayangkan untung yang bisa didapat. Well, memang sih salah satu manfaat investasi ialah menggandakan uang yang kita miliki dalam jangka tertentu. Akan tetapi, yang tidak boleh diabaikan ialah prinsip utama dalam berinvestasi: high gain, high risk. Semakin tinggi potensi sebuah investasi mendatangkan keuntungan, maka semakin tinggi pula risiko kita kehilangan uang tersebut. Jadi sedari awal tentukan besaran uang yang Mommies Daddies relakan hilang saat berinvestasi. Misalnya, ada tawaran investasi saham perusahaan dengan modal Rp 5 juta. Lantas, tanyakan pada diri sendiri, apakah rela kalau sebagian atau semua uang tersebut hilang sebagai risiko investasi? Kalau jawabannya tidak. Maka, Mommies Daddies bisa menunda investasi saham atau memilih jenis investasi lain. Memahami karakter saat membayangkan nilai investasi anjlok adalah awal yang bagus untuk mengetahui jenis investasi yang tepat untuk Mommies dan Daddies.

2. Apa tujuan dari melakukan investasi ini?
Menjalani hidup harus punya tujuan agar bisa lakukan perencanaan yang matang. Demikian pula halnya dengan investasi. Mommies dan Daddies harus punya tujuan saat mau berinvestasi. Tujuan ini bisa beragam, mulai dari dana pendidikan, dana pensiun, dana liburan, umroh atau naik haji. Tiap tujuan punya skala waktu yang berbeda. Semakin panjang jangka waktu investasi maka semakin terbuka peluang untuk memilih instrumen investasi yang agresif.

Misalnya Mommies dan Daddies mau mengumpulkan dana pensiun sebesar Rp 2 miliar selama 30 tahun mendatang. Pilihan instrumen investasi yang cocok ialah yang agresif seperti saham dan properti. Bila dalam beberapa tahun terjadi sesuatu yang menurunkan nilai investasi tersebut, Mommies Daddies punya kesempatan untuk mengelola uang tanpa kehilangan
peluang mewujudkan tujuan tersebut. Beda halnya bila Mommies Daddies mengumpulkan dana liburan tahun depan sebesar Rp 20 juta. Apabila ditempatkan pada instrumen yang agresif, saat nilai investasi itu turun drastis, kesempatan untuk memulihkannya akan sangat kecil.

3. Apa yang jadi batasan untuk berhenti?
Ada waktunya memulai, tentu ada waktu untuk berhenti. Banyak investor yang siap mulai tapi tidak siap menghentikan investasi karena tidak punya batasan. Keputusan untuk berhenti bisa jadi diambil karena kondisi pasar, bukan melihat kondisi keuangan dan karakter pribadi. Sedari awal, buatlah batasan ini. Misalnya ketika tujuan investasi yakni dana liburan sudah tercapai, Mommies Daddies mencairkan dana tersebut bukan malah diteruskan begitu saja. Beberapa investor memberi batasan berupa jangka waktu maupun nilai uang untuk berhenti berinvestasi. Setelah itu uang digunakan atau dialihkan ke instrumen investasi lain jika punya
tujuan baru.

4. Berapa biaya untuk investasi ini?
Ketika berinvestasi, Mommies Daddies menggunakan jasa pihak finansial, seperti broker atau perusahaan manajemen aset. Pastikan secara detil, daftar biaya yang harus dibayar dengan memulai investasi tersebut. Misalnya ingin membeli produk reksadana di sebuah perusahaan manajemen aset. Mommies Daddies harus tahu bahwa ketika dana dicairkan atau ditambah, ada biaya administrasi yangharus dibayar.

5. Apakah ini mempengaruhi aset lain?
Prinsip vital dalam berinvestasi ialah don't put all eggs in one basket. Artinya, jangan menaruh semua uang dalam satu instrumen investasi.

Misalnya semua uang Mommies Daddies habis membeli rumah. Ketika harga properti jatuh, Mommies Daddies Jelas rugi dan tidak punya aset cadangan yang bisa menyelamatkan dari situasi tersebut.

Selamat belajar berinvestasi ya!

(0)
Bagikan:

Komentar (0)


Komentar anda